Tampilkan postingan dengan label it's real me.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label it's real me.. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 November 2016

The Second Moon of My Moon

Dua bulan sudah, usia kandunganku kini.
Alhamdulillah..'alaa kulli haal, tentunya. ^•^
Memasuki usia pernikahan yg jg baru 2 bulan, alhamdulillah Allah swt mempercayakan kami dg anugerah kandungan. Maka bismillah, kami pun semakin senang bebenah diri.
Aa (begitu lah panggilanku u/ suami) sering mengingatkanku perihal pentingnya membaca bismillah di setiap memulai kegiatan apapun. Ia pun memintaku untuk menghafalkan sebuah doa u/ janin yg didapatnya dr sebuah aplikasi handphone. Di antara targetku untuk khatam menghafal juz amma, menghafal doa janin itu adalah hiburan tersendiri bagiku.
Mengapa begitu?
Karen sejak 2 minggu yg lalu, aku mengistirahatkan diri di rumah dan tak mengajar dahulu. Sungguh sebuah keputusan yg cukup berat bagiku. Tapi mengingat kondisi kandunganku yg sering mual-muntah, aku pun rehat di rumah. Maka jadilah akhirnya menghafal surat, menulis, serta kegiatan ibu rumah tangga sehari-harinya menjadi kegiatanku dalam mengisi waktu selama dua minggu ini.
Hmm.. Ada yg menarik perihal kandunganku. Mungkin memang sebagai bentuk adaptasi tubuh atas meningkatnya hormon, sehingga membuatku jd agak...manja.
"Hei! Patut dicatat ya. I'm not such a spoil child. Nor i'm a crybaby. But now..? Oooh.. Shame on me."
Aku memang tak terlalu mengidam ke makanan tertentu. Alhamdulillah-nya.. Tapi sesekali, muncul rasa 'gatal' di hatiku yg mengharapkan seseorang untuk mengelus-elus punggungku. Aku sudah mencoba u/ mengelus punggungku sendiri, tapi rasanya.... Beda. Jadilah akhirnya aku sering meminta dielus punggung, entah oleh aa atau emak. Syukurlah aku didampingi oleh orang2 yg penyabar dan penyayang. Alhamdulillah...
Selain manja, aku pun jadi lebih sensitif/peka rasa. Itulah sebabnya aku semakin banyak beristighfar. Aku khawatir sekali jika kesensitifan ini dimanfaatkan oleh syaitan. Bahaya, bung. Bisa bahaya itu.
Alhamdulillah-nya, aa sungguuh sabar. Hmm..serigkali aku merasa malu sendiri karena membiarkan emosi tak stabil berhasil menguasaiku. Aku memang tak marah2. Tapi menangis? Ugghh.. Such a cry baby.
Kurasa, aku mesti mulai kembali membaca buku2 tentang kehamilan lagi deh. Berharap sih bisa membantuku untuk mengurangi kendali emosi akibat proses kehamilan ini.
Sebagai penutup tulisan, inilah nasihatku untuk si dede (calon baby-ku).
"De, kelak kamu akan tumbuh menjadi anak yg shaleh, sehat, dan kuat. Akhlakmu kan menjadi permata yg langka. Rupamu adalah peneduh setiap mata. Ucapanmu adalah musik yg menularkan kebaikan. Langkah kakimu adalah genderang yg menggetarkan alam. Kamu akan menjadi seorang yg mencintai Allah dan Rasul-Nya. Menjadikan al quran sebagai pemandu hidupmu. Meyakini malaikat sebagai teman juga pengawasmu. Dan menjadikan maut sebagai pesta untuk perjamuanmu dg Sang Khaliq. Kamu akan menjadi matahari bagi kedua orang tuamu, dek. Kamu bahkan mampu menghadiahi kami sebuah mahkota kelak di akhirat nanti.
Menjadi seorang yg bermanfaat dlm kebaikan. Itulah dirimu, de.. Dengan izin Allah, tentunya. Maka bismillah, de.. Kita berjuang bersama-sama ya. Kita saling mengingatkan dlm kebaikan ya.. Kita saling berkasih sayang karena-Nya ya.. Ya, de, ya. Umi-Abi sungguh sayang dede. Karena Allah ta'ala."

Sekian.
Salam hangat selalu,
Meli-Mei-Lia.
^•^

Selasa, 15 November 2016

Dia yang namanya selalu kusebut.

Dia..
*Kali pertama berjumpa, aku tak terlalu menyadari kehadirannya. Ia kukira adalah seperti layaknya tamu jauh lain yang datang ke rumah untuk bersilaturahmi di hari lebaran. Tak ada rasa dag.dig. tak ada rasa dag.dug. Hanya mungkin merasa sedikit iri karena ia berhasil membuat Alika, balita 6 bulannya sepupuku, tersenyum. Sementara saat aku mendekati Alika, hanya muka cenderung menangis saja yang kudapatkan. Hhh...
*Pertemuan kedua kami, sekitar seminggu setelahnya, mulai muncul rasa aneh di hatiku. Rasanya seperti baru menanam sebuah biji yang tak kutahu akan menjadi pohon apa itu nantinya. Harap-harap cemas. Excited. Juga...malu-malu. Hihihi.. Bagaimana tak malu-malu. Lha wong di pertemuan kedua kami ini, dua keluarga kami sudah saling berjumpa dan menyetujui adanya akad pergabungan di antara aku dan dia. Ya.. Kami sudah bertunangan, tanpa adanya acara pertunangan. Dan insya Allah, akad yang akan menghalalkanku dengan dia akan dilangsungkan sekitar dua bulan ke depannya.
*Pertemuan ketiga dan keempat, dia main ke rumah. Kami mulai membincangkan banyak hal. Kami mulai saling menggali visi, misi dan tujuan kami tentang pernikahan. Hasilnya sungguh membuatku takjub. Karena aku merasa dia meng-copy isi hati dan kepalaku. Seperti pinang yang menemukan belahannya. Sebenarnya ada yang lucu di sini. Karena kami baru berbincang2 setelah kami sudah saling mengikat. It's a bit funny, right? ^•^
*Pertemuan kelima, kami fitting baju. Dengan malu-malu, ia memilihkan warna gold dan putih sebagai salah dua dr gaun pestaku. Dua gaunnya lagi, aku yang memilihnya. Hihihi.. Dia lucu sekali. ^•^
*Pertemuan pun terus berlanjut. Hingga akhirnya tiba juga kami di hari itu.
*Jumat, 16 September 2016.
Pertemuan ke lima belas kami. Aku telah sah menjadi pendamping hidupnya. Dan ia telah halal menjadi imamku. Alhamdulillah. 'Ala kulli haal.
Tak ada banyak kata yang bisa kusampaikan lagi. Aku hanya bisa mengatakan, bahwa aku kian bertambah yakin akan takdirnya. Bahwa yang baik akan selalu dipertrmukan dg yang baik. Meski aku memang tak sempurna, dia pun juga sama. Aku yakin, bahwa kami dipertemukan untuk bisa saling menyempurnakan. Tentunya dengan tak henti-hentinya mengharapkan keridhaan-Nya. Amiin.
*Hingga kini, dipertemuan yang ke... Ah. Sudah tak terhitung lagi. ^•^ dia menjadi satu nama yang senantiasa kusebut di setiap doaku. Semoga keberkahan amal, ilmu, juga usianya senantiasalah selalu. Amin. Amiin. Amiin.
Doa akhirku dalam postingan ini,
"Allah yaa Kariim..Pemilik kemuliaan yang tertinggi di jagad raya.. Kumohonkan padamu kemuliaan selalu untuknya. Dalam langkahnya. Dalam ucapannya. Dalam setiap hela nafasnya. Pun bantu pula hamba untuk bisa menyandingi kemuliaan-kemuliannya. Karena Engkau pulalah yang Maha menyandingkan.
Allah Yaa Nuur.. Penguasa cahaya di atas sgala cahaya.. Tunjukanlah jalan cahyamu kepadanya. Kepada kami berdua. Jalan yang akan menjadikan kami salah seorang hamba-hambamu yang lurus. Jalan yang pada akhirnya akan mengantarkan kami pada keridhaan-Mu..
Amiin. Amiin.. Aamiin.. Ya Rabbal 'alamiin.."

Salam hangat selalu,
Meli-Mei-Lia.
^•^

Jalan Takdir dan sebuah Berita

[Sebenarnya tulisan ini selesai kutulis pada 30 Agustus 2016 lalu. Tapi baru sekarang sempat ku posting di sini. Selamat membaca ya, kawan.. ^•^]

Apalah kehendak manusia jika disandingkan dg kehendak Allah Swt.? Bismillaahirrahmaanirrahiim... Setiap dari kita bisa berencana. Bermimpi memimpin gunung. Berseru tentang keelokan masa depan. Atau bahkan bertekad dg tujuan langit. Tapi pada waktunya, semua rencana, mimpi-mimpi, seruan ataupun tekad itu pasti akan menghadapi satu filter kehidupan yang mumpuni, yaitu takdir, aka. Kehendak Allah Swt. Takdir, sebagai filter dari segala usaha dan mimpi anak manusia hingga saat ini selalu saja menampilkan 2 jalan. Kedua jalan itu adalah jalan pemenuhan mimpi-mimpi, serta jalan pengubahan mimpi menjadi mimpi yg lain. Setiap jalan ini memiliki kadar uji dan kesenangannya masing-masing. Untuk mereka yang diijinkan melewati jalan dimana terpenuhinya mimpi dan harapan, maka akan diberikan kepadanya ujian tentang ketawadhu'an. Apakah setelahnya ia akan menjadi pribadi yang rendah hati ataukah menjadi pribadi yang senang berbangga diri di atas segala kesenangan teraihnya mimpi. Dan untuk mereka yang diijinkan melewati jalan pengubahan mimpi, ia juga akan diberikan ujian. Persisnya adalah ujian tentang ketawakalan. Apakah setelahnya ia akan menjadi pribadi yang tetap berkhusnudzon kepada rencana-rencana Allah Swt., ataukah menjadi pribadi yang mudah berputus asa serta berprasangka buruk akan takdir-Nya. Kedua jalan tersebut sesungguhnya dimaksudkan untuk menempa rasa syukur manusia. Entah dalam suka ataupun duka, rasa syukur sudah seharusnya tetap selalu ada. Karena dengan rasa syukur itulah kita bisa menikmati manisnya hidup. Manisnya iman. Rasa syukur pula yang akan membawa kedamaian pada setiap hati. Karena dengan bersyukur maka itu berarti kita sudah mempercayakan Allah selaku Perencana Takdir yang Terbaik. Dengan bersyukur, kita yakin bahwa setiap apa yang dikehendaki oleh-Nya tentu adalah yang terbaik untuk kita. Dan dengan keyakinan bahwa yang terbaiklah yang akan selalu kita dapatkan, maka akan datang pula kedamaian. Wallahu a'lamu bish shawab... Dua jalan yang difilterkan oleh takdir juga terkadang telah diselingi oleh kejutan-kejutan hidup. Kejutan yang seringnya tak terduga itu sesungguhnya adalah bentuk lain dari kesempatan untuk membuka jalan mimpi yang baru. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi kejutan dalam hidup akan menjadi penentu akankah kesempatan untuk meraih mimpi-mimpi baru itu bisa kita raih. Atau tidak. Bentuk kejutan dalam hidup itu ada bermacam-macam. Salah satu yg bisa kucontohkan di sini adalah perjumpaanku dg seorang ikhwan shaleh (Insya Allah. Amiinn) bernama Subki. Selanjutnya kusapa beliau sebagai Kak Subki. Siapa yg dapat menduga, bahwa perjumpaan pertama kami sekitar 53 hari yg lalu akan mengantarkan kami pada fase ta'aruf dan akhirnya menuju ke fase yg lebih serius, yakni pernikahan? ^_^ Siapa pula yg dapat menduga, bahwa perkenalan singkat kami selama 54 hari ini akan mempertemukan kami pada banyaknya kesamaan diri? We are the same old-soul, have the same hobbies, the same history, and even the same ideology. Siapa yg dapat menduganya? ^_^ Meli tentu tidak dapat menduga bahwa kedatangan beliau ke rumah saat itu adalah u/ mencari pendamping hidup. Meli juga tidak dapat menduga bahwa segala sikap dan tutur kata mel saat perjumpaan pertama kami itu telah meninggalkan kesan tersendiri di hatinya. Meli tidak dapat menduga semua hal itu. Tapi mel akui bahwa perjumpaan pertama kami itu adalah salah satu kejutan termanis yg Allah swt. berikan dalam hidup mel. Bahagia? Sudah tentu... Alhamdulillah berkali-kali malah... ^_^ Meski begitu, mel gak akan terlena dengan mimpi yg baru terbentuk ini. Karena seperti namanya, mimpi hanyalah mimpi, sesuatu yg tidak nyata. Sebuah mimpi baru bisa terwujud jika disandingkan dg usaha dan doa. Maka bismillah, beserta segenap usaha, mel haturkan pula doa dan harapan mel bahwa mimpi baru ini bisa terwujud nyata dan memang menjadi sesuatu yg baik adanya. Membentuk keluarga yg sakinah, mawaddah, juga rahmah. Amiin.. Allahumma amiin.. Mohon doanya ya, semua. ^_^ Salam hangat selalu.. Meli-Mei-Lia. ^v^

Cinta yang seperti pohon, tak seperti komet.

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad. Wa 'ala aali sayyidina Muhammad. Shallallahu 'alaih..

Alhamdulillah. 'Ala kulli hal. Lama sudah aku tak bersua dg dunia blog. Sebenarnya sih ada banyak tulisan yg mesti ku-posting. Sayangnya rasa malas sempat menjangkitiku. Hihihi.seperti virus, mungkin, rasa malas itu. ^~^
Baiklah, kurasa aku tak perlu berpanjang kata lagi ya.
Jadi, dalam postingan ini, aku akan mengabarkan bahwa Allah telah menganugerahiku jenis cinta yg baru. Setelah dulu ia menganugerahiku cinta yg seperti komet, kini aku telah mendapatkan jenis cinta yg bisa dibilang seperti pohon.
Nah. Mengapa komet, mengapa pohon?
Jadi begini...
Dulu aku sempat menjumpai cinta yg seperti komet. Berkilau. Melenakan. Wow. Sayangnya ia hanya melintas, sebelum akhirnya berlalu dr pandangan mata. Seperti komet, cinta itu memudar seiring berlalunya waktu. Disebabkan oleh menjauhnya sang cinta itu sendiri. It doesn't mean that i blame it, though. Aku justru bersyukur dg adanya pengalaman cinta kometku. Karena aku jadi lebih peka dan bs menghargai jenis cinta baru yg kini mendampingi hari-hariku. Cinta yg seperti pohon.
Layaknya pohon. Cinta baru ini terus bertumbuh. Ia yang mulanya hanya berupa tunas dr biji kasih, perlahan-lahan mulai tumbuh dan tumbuh dan tumbuh hingga kini mulai mengakar kuat di pokok hatiku. Cinta ini bahkan mulai memunculkan bunganya. Bunga, yg menjadi pertanda akan munculnya buah. Buah cinta. ^~^
Kurasa kalian bs mulai menebak-nebak jalan ceritaku perihal cinta ini.
Ya. Cinta komet itu memang adalah sesuatu yg berwujud manusia.
Dan, ya. Cinta yg seperti pohon pun juga berwujudkan manusia.
Tak perlulah kutuliskan siapa cinta kometku. Tapi untuk cinta pohonku, dia adalah seorang pria yang telah menjadi partner, sahabat, juga guruku dlm mengarungi bahtera pernikahan sejak jum'at, 16 September 2016 lalu.
Ya. Kalian benar. Aku sudah menikah kini.
Dan, ya. Kalian benar lagi. Aku pun sedang mengandung buah cinta milikku dan cinta pohonku.
Ahh.. Apa lagi yg bisa kukatakan selain, "alhamdulillah 'ala kulli haal". ^•^
Allah yg mempertemukan. Allah yg meridhakan. Allah yg merizkikan. Allah pula yg menguatkan.
Harapku kini,
" Semoga Allah menguatkan kami dalam menjaga rizki cinta yg kami miliki kini.
Semoga pula Allah meridhai setiap langkah kami yg senantiasa ingin menjumpai jalan-jalan ridha-Nya.
Semoga ia mengukuhkan juga menjaga pohon cinta ini, hingga ia menjadi pohon rindang yg tak hanya kokoh, namun juga mampu meneduhkan dan menebarkan manfaat kepada sekitarnya.
Amiin.aamiin.aamiin. Allahumma aamiin..."
Salam hangat selalu,
Dari kami,
Suli.
(Subki-Meli). ^•^

Selasa, 15 Desember 2015

Silap-Salip*nya Meli

Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Dalam postingan kali ini aku ingin mengakui beberapa silap (kesalahan) yang kubuat dalam hidupku.  Silap-silap yang kutulis di postingan ini berkaitan dengan orang lain. Ada yang lucu (menurutku), ada juga yang merugikan (semoga tak terlalu merugikan). Mungkin akan lebih mudah jika kubuat poin saja ya.
Yap! ini dia:
*Silap ke satu...
Kuhaturkan permohonan maafku kepada grup band Dewa. SuAngguh...sungguh saya minta maaf. Karena tak sengaja salah mengira lirik lagunya sebagai puisi yang ditulis oleh seorang sahabatku untukku. Jadi, saat dulu aku menerima surat dari sahabatku yang berisi lirik lagunya Dewa itu, kukira itu ciptaan sahabatku yang memang seorang pujangga. Dan saat kelas XI ada tugas untuk menciptakan atau menggubah lagu, kubuatlah nada-nada untuk lirik lagunya Dewa itu. Lirik-lirik itu pun menjadi lagu pertamaku yang berjudul "Arti Hadirku" (silahkan ditengok postingan lagu-nya di sini).
Barulah tujuh tahun kemudian kuketahui kekhilafanku ini. Dan aku pun langsung mengubah liriknya. Agak rancu sih... tapi tak apa-apa lah. Nanti kubenarkan lagi.
intinya, hampura pisan ka grup Dewa.
*Silap kedua...
Silap yang ini, aku sengaja melakukannya. Tapi kukira, tak ada yang kurigakan deh.. (kayaknya sih...)
Jadi begini.. Saat awal kelas X, aku mengikuti ekskul qasidah. Nah, di pertemuan pertama ekskul qasidah itu, diadakan pemilihan vokalis. Sebelumnya para anggota baru ditanya terlebih dahulu siapa yang pernah menjadi vokalis di grup apapun. Aku pun spontan ikut mengacungkan tangan, yang selanjutnya amat kusesali. Bukannya kenapa. Tapi aku sudah sangat bosan menjadi vokalis dan sangag amat ingin memegang instrumen. Maka setelahnya aku pun bersama satu orang lainnya yang ikut mengacung diuji menyanyi. Nah. Silap yang sengaja kulakukan saat itu dan tak kusesali adalah... Aku menyengajakan diri untuk men-dead-kan suaraku. Aku sengaja membass-kan suaraku secara berlebih. Alhasil terdengar agak aneh dan lebay. Hee.. Mengingatnya lagi, aku jadi ingin tertawa. ^©^ tapi aku tak menyesal kok. Hanya mungkin sedikit malu saja karena mesti didengar oleh sekitar belasan orang saat itu. Tapi toh rasa malu itu terbayarkan karena aku akhirnya berhasil memegang instrumen. Bass 2 pula. Alat penentu akhir dan intro sebuah lagu. Yippii!!! ^¢^
Gitu deh..
Hmm.. Sebenarnya masih ada banyak lagi silapku dalam hidup ini. Tapi kurasa akan kucukupkan dulu deh sampai dua cerita dulu. Insya allah lain waktu akan kulanjutkan lagi ya.
Baiklah. Semangat beraktivitas, semua!
Salam hangat selalu,
Meli-Mei-Lia.
^•^

Kamis, 30 April 2015

Perkenalan dengan "Lensa"

Alhamdulillaah 'alaa kulli haal..
Puji Syukur kepada Allah swt. untuk setiap keadaan..^.^
hmm.. singkat saja ya.
di posting-an ini, aku ingin mengabarkan bahwa aku akan mengenalkan kawan-kawan pada "hasil tangkapan" kameraku. ^.^ Sungguh. hanya bermaksud ingin mengenalkan kawan-kawan pada sudut pandangku tentang dunia dan seisinya, juga Pencipta-nya. Setelah beberapa tahun kemarin aku asik mengenalkan kawan-kawan pada bagaimana musik yang mengiringi hidupku. Sejak seminggu kemarin aku tergugah untuk membagi foto-foto hasil jepretanku. Masih cukup amatir memang.
Tapi kuharap bukan keamatiran yang hanya bisa kawan-kawan tangkap dalam rangkaian foto-fotoku ya. Kuharap kawan juga bisa ikut menangkap "rasa" yang kualami ketika menangkap foto-foto tersebut.
Demi kenyamanan semua pihak, foto-foto yang akan ku-publish dalam blog ini adalah foto-foto inhuman. artinya, aku tak akan menampilkan wajah orang-orang yang kukenal. ini hasil pertimbanganku bahwa setiap orang tentu memiliki hak untuk bisa memilih wajahnya di-publish atau tidak.
Nah... kurasa cukup sampai di sini perkenalan tentang "Lensa"-ku ya.
Sebagai salam perkenalan, berikut akan kutunjukkan salah satu tangkapan lensa-ku.

 Judul Piku : "Tertangkap Basah".
Model         : Kucing Belang Hitam No. 1
Software edit  : CS360

Senin, 14 Juli 2014

"Ia" adalah...

7 Desember 2006. Perjumpaan pertamaku dengan ia di rumah, pada suatu sore yang cerah. Ia datang bersama seorang sahabatku, Sho. Berdua, mereka memberikanku sebuah hadiah untuk usia 16-ku. Sebuah Kumcer (kumpulan Cerpen) dengan judul ’17 Tahun’. Sedikit berguyon, kugoda mereka.
“umur mei kan baru 16. Kok dikasih buku yang judulnya 17 tahun sih?”
Sho dan ia tersenyum menanggapi guyonanku. Dalam hati, kudo’akan kebaikan yang lebih baik untuk mereka. Sho dan Ia. Amin.
24 Februari 2007. Ia mengirim pesan singkat aneh yang berisi kata-kata, “mei… te amor”. Aku tak mengerti makna pesan singkat itu. Dan, oleh karena saat itu pun aku tak memiliki pulsa, akhirnya aku hanya mengingatkan diri sendiri untuk menanyakan maksud pesannya itu, kelak. Segera setelah kuisi pulsaku. Sayang disayang, ingatanku itu terlalu lemah dan harus mengalah pada khilaf dan lupa.
Pertengahan April 2007. Kunjungan pertamaku ke rumahnya. Ini sangat berkesan. Karena selain teduh, rumahnya juga dihiasi oleh taman yang cantik. Keterpanaanku pada taman di rumahnya telah membuatku lupa pada fakta bahwa itu juga merupakan kali pertama kunjunganku ke rumah seorang pria.
11 Nopember 2007. Ia memberiku sebuah frame foto cantik berwarna pink sebagai hadiah usia 17 tahunku. Aku menyukai pemberiannya itu. Sama sukanya dengan boneka lumba-lumba berwarna pink, pemberian Sho. Juga sama sukanya dengan kejutan siram yang direncanakan oleh Vio, seorang karib di SMA. Kukatakan kepadanya ucapan haruku atas pemberiannya. Dan ia tersenyum malu-malu. Saat itu, aku merahasiakan darinya, bahwa aku senang melihat senyum malu-malunya itu.
02 Juli 2008. Kami dalam suatu rombongan berangkat bersama untuk pendaftaran tes masuk suatu perguruan tinggi negeri di Ciputat. Saat itu, benakku sedang teralihkan dengan kehadiran pria lain. Entah kenapa aku yakin bahwa ia mengetahui rona hati yang kutujukan pada pria lain (meski aku sendiri tak sadar dengan rona hatiku sendiri). Tapi entahlah. Yang jelas, mulai sejak itulah kurasakan perubahan sikapnya terhadapku. Ia tak lagi murah senyum ketika melihatku. Aku tak lagi mendapatkan pandangan malu-malu di matanya yang bening. Sayang, aku tak terlalu memperhatikan perubahan itu.
28 September 2008. Hari pertama puasa. Kembali pula kunjunganku ke rumahnya bersama Sho, untuk ke sekian kalinya. Saat itu, kami sudah tahu bahwa hanya aku yang berhasil masuk ke perguruan tinggi yang kami tuju. Sho kemudian memilih perguruan tinggi lain. Dan ia, ia memilih untuk di rumah dahulu. Tak ada yang berubah dari hubungan kami bertiga. Kecuali saat itu aku mulai menyadari ada yang berbeda dari senyumannya. Tapi bukan oleh alasan karena ketidaklulusannya di perguruan tinggi tempatku lulus, melainkan entah karena apa.
Pertengahan Februari 2009. Aku kembali berkunjung ke rumahnya. Bersama Sho tentunya. Tapi, aku semakin yakin bahwa senyumannya telah berubah. Meski aku masih tetap belum menyadari apa penyebabnya.
20 Januari 2010. Ada sms masuk darinya ke inbox, saat aku masih di perjalanan pulang dari mengajar les di Cipete. Isinya tanya kabar. Maka jadilah akhirnya sepanjang perjalanan pulang itu kami ber-sms-an. Sangat akrab!
Awal Mei 2010 yang melelahkan. Aku baru pulang dari perkuliahan sore. Dengan santai kukirim sebuah sms padanya. Menanyakan arti ‘te amor’ yang baru kuingat dulu pernah dikirimkannya padaku. Kenapa aku ingat? Karena kebetulan saja ada seorang teman yang mendapatkan surat berisi kata-kata serupa. Dan temanku itu menanyakannya kepadaku. Sms balasannya muncul, tapi di dalamnya ia tak langsung membalas pertanyaanku. Ia malah bertanya,
‘emang kenapa, Mei?’
Kuberitahu saja padanya bahwa ada temanku yang menanyakannya. Tapi lagi-lagi ia tak langsung membalas pertanyaanku. Ia malah kembali bertanya.
‘knp baru skrg nanyany? Knp g dr dulu?’
Kembali kuberitahu ia bahwa dulu, saat ia mengirimiku sms ‘te amor’ itu, aku sedang tak ada pulsa dan kemudian malah terlanjur lupa untuk menanyakan artinya saat aku mempunyai pulsa. Ia kemudian membalas lagi.
‘coba cri za di google.. ok! Dah.. ^o^’
Ugh.. aku sebal. Ku sms saja ia seperti ini,
‘knp g mw ngsih tw c?! mang dah lupa y arti’y apa?’
Ia tak membalas. Maka kubiarkan saja kemauannya itu. Aku langsung searching di google melaui handphone-ku. Dan ternyata, barulah kuketahui arti kalimat ‘te amor’ itu. Bahwa artinya adalah,
‘aku cinta padamu’
DEG. Aku kaget. Megap-megap kugapai udara di sekitarku. Agak terkejut mengetahui arti kalimat itu, pikiranku malah berkelana dan mengantarkanku pada satu kesimpulan yang membuatku merasa bersalah. Tapi kemudian kerasionalan pikiranku kembali menyadarkanku pada keadaan. Dan aku disuruhnya untuk mengkonfirmasikan kebenaran arti kalimat ‘te amor’ itu, dengan menanyakannya kepada ia. Maka kemudian kususunlah kata-kata untuknya.
‘hei.. te amor tu artinya ‘aku cinta padamu’ y? bener g c? dan.., klo mang tu arti’y, wakt dlu… serius g ngirim’y?’
Aku menunggu balasan pesannya. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Belum ada pesan darinya yang masuk ke inbox-ku. Sepuluh menit. Setengah jam. Akhirnya aku mulai merasa geram. Aku pun sampai pada satu kesimpulan bahwa ia tak akan membalas pesanku karena ia tak ingin membalasnya. Kenapa aku tidak berpikir bahwa ia mungkin memiliki udzur yang membuatnya tak bisa membalas pesanku? Karena aku tahu, ia sedang tak ada udzur pekerjaan untuk tidak membalas sms-ku saat itu. Akhirnya, aku segera bangkit dan memilih untuk melanjutkan aktivitas sore. Aku juga memilih untuk percaya pada alasan lemah pikiranku bahwa ia mungkin memang sedang tak bisa membalas pesanku sore itu. Jadi aku akan menunggu balasan sms-nya. Mungkin nanti malam atau besok pagi sms darinya baru akan datang.
Sayang. Hinggo esok hari menjelang malam, aku tak mendapat balasan sms darinya. Akhirnya dengan pahit aku menerima kesimpulan awal yang sempat terbetik di pikiranku. Bahwa arti kalimat ‘te amor’ memang adalah ‘aku cinta padamu’. Dan itu berarti dulu ia pernah mencintaiku. Sementara aku tak tahu dan mengacuhkan perasaannya dengan dalih tak ada pulsa untuk bertanya dan parahnya malah terlanjur lupa untuk menanyakan artinya. Aku telah mengacuhkan perasaannya.. “maaf, ia…”
03 Agustus 2010. Bersama Sho, aku kembali berkunjung ke rumahnya. Tapi, kunjungan kami kali ini memiliki alasan yang kurang menyenangkan. Karena ia saat itu sedang dalam kondisi sakit. Perasaan cemas mulai merajam hatiku tentang kondisinya. Dan usai melihat keadaannya saat itu, aku dan Sho tahu, kondisinya sangat-sangat parah. Sepulang dari rumahnya aku dilingkupi kecemasan yang tak berujung.
04 Agustus 2010. Malam terang tanpa gemintang. Aku tak bisa lelap tidur. Hal ini bagiku sungguhlah aneh. Karena tak biasanya aku merasa sulit tidur. Tiba-tiba saja kecemasan tentangnya kembali menyergapku, setelah aku mulai merasa tenang usai mendoakannya dalam shalat isya. Ah! Buru-buru kuusir rasa cemas itu dengan mengambil wudlu dan shalat witir. Selesai shalat aku berdo’a. Dalam do’aku itu aku meminta.
“Yaa Rabb… berikanlah kesembuhan baginya. Kesembuhan yang tiada lagi penyakit sesudahnya. Kesembuhan yang akan semakin mendekatkan dirinya kepada-Mu. Kesembuhan yang akan membuatnya mampu merengkuh keindahan cinta-Mu. Amin.”
Saat itu aku tak tahu bahwa Allah akan mengabulkan do’aku keesokan paginya… dalam jalan lain dari maksud do’aku.
05 Agustus 2010.
Pagi buta pukul 03.00 aku terbangun. Makan, lantas menyiapkan barang-barang yang akan kubawa ke Ciputat. Selesai itu, jam 4-nya aku turut menumpang angkot Mang Sarlan yang akan mengantarkanku hingga terminal Kalideres. Dari Kalideres, aku singgah dulu ke masjid untuk shalat. Lalu aku teringat, bahwa aku belum berniat untuk puasa sunnah hari kamis. Kemudian, setelah meniatkan diri puasa, berangkatlah aku dengan menaiki bus way menuju Ciputat.
Entah kenapa. Sepanjang perjalanan itu aku selalu teringat ia. Bahkan aku cukup gila untuk berbincang-bincang sendiri dalam hati. Mengandaikan aku sedang berbincang dengannya di bus way itu. Gila. Sungguh gila.
Setelah lewat beberapa menit dari jam 5, aku mendapat ilham kata-kata cantik yang ingin sekali kukirimkan ke banyak orang, terutama kepada ia. Bahkan dengan yakinnya, ia adalah orang pertama yang kukirimkan kata-kata cantik itu. Isi sms-ku seperti ini,
“Salam., slmt pagi wahai pjuang khdupan!
Sudahkah senyum syukurmu mhiasi awal pagi ini?
Jk blum, tsnyumlah!
Tsnyumlah bsm alam yg trus bertasbih mngagungkan Dia Yang Maha Kudus..
Tsnyumlah bsm sapaan angin yg bhmbus syahdu, sbg tanda ia tundk pd ketetapan-Nya tuk menyejukkan alam & seisi’y..
Tsnyumlah..
Tsnyumlah kawan,
Tsnyumlah…
Krn snyummu,
Bgtu indh d mata dunia.
Wahamdulillaahirabbil ‘alamiin.”
Send. Zzztt…
-----
Lagi-lagi entah kenapa. Aku merasa ada perasaan aneh yang menghampiriku. Saat itu, usai mengirimkan pesan singkat itu ke nomornya juga ke beberapa nomor temanku lainnya, aku merasa lega luar biasa. Kelegaan itu datangnya tiba-tiba tanpa kutahu sebabnya apa.
Sampai di Lebak Bulus, di dalam angkutan D.02, kelegaanku pecah dan terganti oleh keterkejutan dan rasa sedih ketika Sho mengabarkanku sebuah berita lewat telepon. Dengan suara berat dan lirih, Sho mengantarkan berita duka ke telingaku.
“Meii.. Ia udah gak ada…”
Sudah. Itu saja ucapan Sho yang terdengar di telingaku. Cukup singkat, memang. Meski begitu, hatiku bak digodam oleh palu berduri. Kaget? Tentu. Sedih? Sangat.. tapi saat itu aku masih cukup rasional untuk mengajak Sho pergi ke rumahnya. Kami harus mengunjunginya. Dan jadilah akhirnya aku yang baru tiba di Ciputat, berbalik arah dan kembali menempuh perjalanan bersama Sho. Menuju pulang.
Sepanjang perjalanan, Sho dan aku tak henti-hentinya menangis. Tak perduli penumpang bus way yang berdesakan, melihat tangis kami. Terkadang Sho, dengan suara lirihnya menceritakan beberapa kenangannya bersama ia. Kadang cerita lucu. Meski kami sama-sama tidak bisa tertawa. Justru rasa perih lah yang mengisi hati kami saat itu. Saat kami saling bergantian bercerita tentangnya.
Setelah agak lama menangis dan saling membagi cerita tentangnya, kami memilih untuk berdiam diri. Sho sibuk dengan hp-nya, memberitahu orang-orang tentang kabar pedih itu. Dan aku, memilih untuk memutar kembali memori kenangan milikku tentangnya. Sembari melihat gerimis yang membasahi jalanan yang kami tinggalkan jauh di belakang bus way.
Sampai di rumah ia, keramaian dari para pelayat telah menyambut kedatanganku dan Sho. Kudapati di beranda rumahnya sudah ada Cha-Cha, Mimin, Imas, Dewi, juga banyak para pelayat yang tak kukenal.
Dewi… aku yakin. Mungkin di antara para pelayat yang hadir itu, Dewi lah yang paling kehilangan ia. Karena seperti yang sudah diketahui oleh orang terdekat ia, Dewi adalah pacarnya. Ya. Dia adalah pacar ia selama ± 8 bulan ini.
Aku mencoba tersenyum pada Dewi. Meski sebenarnya aku pun memiliki kehilangan yang sama. Bedanya, Dewi kehilangan seorang pacar. Sementara aku? aku kehilangan seorang sahabat. Ia. Sahabat yang sangat baik. Dewi hanya menatapku sesaat, tak membalas senyumku. Kuterka kepedihan ini terlalu pekat bagi hatinya hingga membuatnya tak mampu menarik senyuman. Dewi kemudian mengembalikan tatapannya ke tanah. Dan aku mencoba untuk memafhumkannya.
Kemudian, kualihkan pandanganku ke dalam rumah. Lebih tepatnya adalah ke ruang tamu rumah ia. Di sana, keberadaan sebuah keranda yang ditutupi kain hijau berlafazhkan ‘Laa Ilaa ha illallaah’ serta merta melipatgandakan kepedihan yang kurasakan. Aku bahkan tak kuasa menahan gerimis yang hendak turun dari sudut mataku.
Kucoba tersenyum, bisa. Mengandaikan bahwa ia ada di ruang tamu itu dan mengharapkan aku bisa tersenyum untuknya.  Lalu kudekati keranda itu. Kusentuh pegangannya, dingin. Tapi aku tahu. Di dalam keranda itu sedang terbaring jasad seorang dengan kepribadian yang telah menghangatkan hati orang-orang yang dikenalnya. Termasuk aku.
Setelah termenung cukup lama, aku kembali berdiri. Kutitipkan tas-ku pada Tjokro, adik ia, yang kemudian ditaruhnya di dekat TV dalam ruangan yang lain. Kuperhatikan Tjokro, ia tersenyum tipis padaku. Jika aku tak mengenal Tjokro dengan baik, aku mungkin akan mengira ia tak merasa sedih atas kehilangan ‘kakak semata wayangnya’ itu. Tapi aku, jelas sudah tahu. Tjokro menyimpan kesedihannya di ke-aku-an lelakiannya. Tjokro tak bisa menangis di depan umum seperti lelaki kebanyakan. Melihatnya, aku jadi sedikit lebih tegar.
Selanjutnya, kucari ibu ia. Kudapati beliau ada di dapur, sedang menyiapkan makanan ringan untuk para tamu. Kuhampiri ibu, menyapanya dan kemudian memeluknya. Tapi kemudian aku dikejutkan oleh apa yang tampak di mataku. Aku melihat ketegaran dan kepasrahan dalam keseluruhan diri ibu ia. Di matanya yang teduh. Di bibirnya yang tersenyum pasrah. Juga di rengkuhan lengannya, yang balik memelukku hangat. Uhft… aku jadi merasa malu. Lebih malu lagi, setelah ibu ia menyabarkan hatiku dengan kata-katanya.
“ini musibah, Mel.. mesti ikhlas.. ikhlas, ya. Insya allah ia juga ikhlas..”
Kemudian, setelah cukup lama memeluk ibu, aku kembali ke ruang tamu. Alunan surat Yaa Siin sudah terdengar. Kulihat Sho duduk menatap keranda ia. Tamu bulanan menghalangi Sho untuk ikut mengaji. Syukurlah, aku sedang dalam masa suci. Maka segera, kulangkahkan kakiku ke sumur di belakang rumah. Kepada ibu ia aku ijin mengambil wudlu. Setelah berwudlu, kuambil posisi duduk di bagian kepala keranda. Lalu aku hening menghayati suaraku yang turut melantunkan surat Yaa Siin bersama pelayat lainnya.
“A’uudzubillaahi minasysyaithaanirrajiim… bismillaahirrahmaanirrahiiim.. alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.. arrahmaanirrahiim… maaliki yaumiddiin… iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.. ihdinashshiraathal mustaqiim.. shiraathalladziina an ‘amta ‘alaihim. Ghairil maghdhuubi ‘alaihim. Waladhdhaaalliiin.. (aamiiiin).. bismillaahirrahmaanirrahiim… Yaa Siin… wal Qur’aanil kariim.. innakalaminal mursalin… ‘alaa shiraathimmustaqiim..” dst.. dst..
……
Sepanjang mengaji, aku tak kuasa menahan haru. Aku merasa seolah-olah ia berada di dekatku dan berkata,
             ‘jangan sedih ya.. semuanya bakal baik-baik aja..’
Dan dengan konyolnya, aku turut membalas ucapan gaib yang datangnya dari benakku sendiri itu.
             ‘gimana gak sedih, ia. Mei belum sempet minta maaf ke ia.. maaf, kalo dulu mei pernah gak sengaja ngegantungin perasaan ia. Maaf, karena mei gak sepeka yang mei kira, sampe gak sadar sama semua sikap hangat ia ke mei. Mei kira ia juga anggep Mei sebagai sahabat. Maaf ya, ia.. beneran maaf..’
Sudah. Sampai di situ saja suara batinku bicara. Sayangnya, tak ada lagi ucapan gaib yang muncul di benakku. Aku masih khusyu’ dengan lantunan surat Yaa Siin. Namun hatiku tak lagi gerimis karena rasa sedih, melainkan sudah banjir. Banjir oleh rasa sedih juga rasa bersalah yang bercampur jadi satu rasa yang…. Entahlah..
---
Sekian kenanganku tentang ia.
Hampir empat tahun telah berlalu dari hari wafatnya ia, sahabatku yang baik. Di hari itu, 5 Agustus 2010, aku memilih untuk tidak mengantarkan ia sampai ke kuburnya. Alasannya klise. Aku belum bisa melepas kepergiannya saat itu. Ada beban rasa bersalah yang kumiliki terhadapnya saat itu. Rasa bersalah yang terkadang masih juga kurasakan hingga kini, setiap kali aku mengingat kenangan tentang ia. Meski begitu, aku sudah belajar pada sang waktu. Selama tiga tahun lalu aku mencoba untuk memaafkan khilafku. Kutegaskan dalam hati bahwa kekhilafanku adalah hal yang lumrah. Dan tak sepatutnya aku terlalu membesar-besarkan rasa bersalah itu. Manusia berbuat salah itu lumrah. Yang menjadi masalah adalah jika manusia sudah melumrahkan diri untuk berbuat salah. Itu jelas salah. Jadi.., gitu lah.
Sekitar pertengahan tahun 2012 lalu, aku  (akhirnya) mengunjungi makam ia bersama Sho. Di momen itu, aku akhirnya bisa melepaskan beban yang kusimpan selama masa sebelumnya. Di samping Sho, aku bicara. Kata-kataku saat itu kutujukan untuk ia. Inti dari ucapanku saat itu adalah tentang permohonan maafku kepada ia. Dan Sho, yang juga turut mendengarkan ucapanku akhirnya membagikan beberapa cerita tentang ia. Alhamdulillaah… Cerita Sho itu bisa turut membantuku merasa lega. Yah. Begitu lah..
Itulah ceritaku tentang ia, sahabatku. Ia, sahabat baikku. Harapku untuknya, semoga ia berbahagia pula di surga sana. Amin. Allahumma amin. ^_^
Btw, aku belum menuliskan nama ia yang sebenarnya ya?
He.. he.. he.. maaf.. kesengajaan yang kusengaja, sih. ^_^
Jadi, salah satu sahabat baikku di dunia ini yang kujadikan madona dalam ceritaku kali ini adalah ia. Yang akrab kusapa dengan panggilan ‘Jo’. Joko Syahridlo, nama lengkapnya. Kembali kuharapkan sebaris do’a untuk ia. Untuk Jo,
‘Semoga Jo bisa berkumpul bersama hamba-hamba yang dicintai-Nya di surga sana.” Amin.
---
Rancabango,
Joko Syahridlo.
Lahir tgl. 4 Oktober 1989
Wafat pada Kamis, 5 Agustus 2010

Jumat, 04 Juli 2014

Mimpi-Mimpi Si Tukang Tidur



06 Ramadhan 1435 H.
Jum’at berkah, Zhuhur yang terik

Siang-siang begini, memang wajar jika banyak orang memilih untuk tidur dibandingkan aktif melakukan kegiatan. Terkecuali tentunya adalah PPR (Para Pencari Rizki-Nya) yang telah terikat kontrak kerja atau harus tetap bekerja demi menghadapi kebutuhan hidup.
Nah. Salah satu orang yang sedang tidur saat ini adalah Emak. Di dekatku, Emak tenang dalam tidurnya. Aku tersenyum. Bersyukur dengan pilihan Emak untuk tidur dibandingkan dengan asyik berkebun atau entah melakukan kegiatan apa. Emak memang termasuk orang yang jarang tidur siang. Dan saat ini, ia mungkin sudah cukup kelelahan setelah berkebun, mengurus ternak kambing, ayam dan soang, serta pergi ke pasar, yang telah dilakukannya sejak pagi-pagi tadi. Jadi, tidur satu-dua jam di siang ini kurasa memang wajar untuknya. Apalagi dalam hadits nabi juga dikatakan bahwa tidurnya orang yang sedang berpuasa juga ibadah (berpahala) bukan? ^_^
Mengingat kata ‘tidur’, aku jadi ingat dengan salah satu gelar teman-temanku untuk diriku. Si ‘tukang tidur’.
Yap! Aku disebut-sebut oleh beberapa teman MTs-ku sebagai ‘tukang tidur’, lantaran aku yang sering tidur di sekolah. Bukan saat jam istirahat saja lho, aku tidur. Karena terkadang aku juga tidur saat beberapa guru sedang ada di kelas. Hayoo! Gimana bisa, coba?
Hmm.. tentang trik-trik milikku untuk bisa tidur tanpa ketahuan oleh guru, kurasa tak perlu lah kutuliskan di sini. Khawatir nanti ada yang ikut mengikuti trik-ku dan itu berarti sama saja aku mengajarkan sesuatu yang tidak baik. Tidak! Tentu saja aku tak bermaksud seperti itu. Di sini, aku hanya ingin bercerita tentang kebiasaan burukku yang kuharap bisa menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membaca catatan ini. Amin.
Lanjut lagi ya.
Jadi, entah sejak kapan persisnya, aku mudah mengantuk. Tapi kusadari bahwa di masa-masa MTs itulah aku sering tertidur di kelas. Kuterka sendiri, bahwa rasa kantuk ini mungkin muncul seiring dengan munculnya kegemaranku dalam hal membaca.
Seperti yang pernah kusebutkan dalam ceritaku sebelumnya. Bahwa aku mulai menjadi bookaholic (penggila buku) ketika aku duduk di bangku MTs. Bahan bacaanku pun tak hanya paper, buku dan LKS, melainkan juga koran, kertas pembungkus gorengan di kantin, tulisan-tulisan kecil di tembok WC. Bahkan, kertas sampah yang kutemukan sewaktu berjalan pun tak segan-segannya kuambil dan kubaca, untuk kemudian kubuang ke tempat sampah terdekat. Aneh kah? Hmm.. aku sih biasa saja.. 😊
Kembali ke topik tidur.
Jadi, kupikir bahwa kebiasaan tidur di sekolah itu memang muncul dikarenakan kegilaanku membaca. Aku sebenarnya amat menyesali kebiasaan burukku ini. Tapi ya mau bagaimana lagi? Saat itu, aku sudah mengusahakan berbagai cara untuk melawan rasa kantuk. Aku sudah mencuci mukaku setiap kali aku hampir kalah oleh kantuk. Tapi tetap saja aku kalah, dan akhirnya tertidur. Satu-dua orang guruku bahkan bersu’udzon padaku yang sering minta izin pergi ke kamar mandi saat pelajaran berlangsung. Mereka mengira aku sengaja pergi ke WC karena ‘tak betah’ dengan pelajarannya. Padahal ‘kan aku sungguhan hanya mencuci muka. Coba? Serba salah juga kan? Beruntungnya Allah memberkahiku dengan otak yang cukup cepat dalam memahami pelajaran. Jadi, meski aku sering tidur di kelas, aku masih bisa mempelajarinya dari buku LKS dan buku catatan yang kusalin dari teman sebangkuku (Lilis, Mita, Tari, Andhika, Fanny, Annida).
Alhamdulillah.. Kebiasaan buruk tidurku bisa sedikit berkurang saat aku masuk SMA. Saat itu aku hanya tidur jika tak ada guru di dalam kelas. Dan jika ada guru yang masuk, Tika (teman sebangkuku di kelas X.1) segera menyikut lenganku. Biasanya, saat aku terbangun, aku sudah cukup segar untuk kembali belajar. ^_^ (makasih ya, Tik..). Dan kebiasaan tidur ini masih terus melekat di keseharianku ketika aku naik ke kelas XI IPA2 dan naik lagi ke kelas XII IPA 3. (kali ini, aku berterima kasih kepada Nita dan Lulu yang begitu setia menjadi teman sebangkuku di kelas XI dan kelas XII. Makasih yaa.. ).
Ketika kuliah, area tidurku mulai menjelajah.
Maksudnya?
Maksudnya, aku mulai bisa mengontrol kesadaranku meski kupejamkan kedua mata. Jadi, meski aku terlihat tidur, aku sebenarnya masih cukup sadar dengan keadaan sekelilingku. Kegiatan tidur ini hanya berfungsi untuk merilekskan pikiran dan otot-otot mataku. Sehingga setelahnya, aku bisa bangun dalam kondisi yang lebih segar.
Selain mengontrol kesadaran sewaktu tidur, aku juga bisa menetapkan durasi untuk tidurku. Jika aku hanya merasa sedikit lelah, biasanya lima menit memejamkan mata sudah cukup untuk menyegarkannya. Jika rasa letihku lebih penat, maka biasanya aku mendurasikan waktu tidurku selama sepuluh atau lima belas menit. Posisinya pun bisa sambil duduk. Cukup menopangkan kening di telapak tangan, aku sudah bisa tidur tenang. Menyaksikan kebiasaanku ini, beberapa teman Kimia-ku ada yang merasa aneh, geli, juga acuh. Yah. Begitulah. ^_^
Nah! Masih ada hal yang unik dari kegiatan tidur singkatku. Seringkali, aku pun bisa tidur dalam keadaan berdiri. Hayoo! Gimana bisa, coba?
Jadi begini. Biasanya keadaan yang memaksaku untuk tidur berdiri adalah manakala aku yang sudah terlampau lelah ternyata tak mendapat tempat duduk ketika menaiki Bus Way. Bisa dibayangkan? Dengan tangan kiri, kupeluk tas bawaanku agar aman dari pencuri. Dan dengan tangan kanan, kupegang erat-erat, tiang atau pegangan yang memang tersedia di bagian atap Bus Way. Ini kulakukan untuk menyangga berat tubuhku agar tidak mudah jatuh setiap kali bus berhenti di setiap transitnya atau karena harus rem mendadak karena suatu hal. Aneh kah? Ah.. TIdak juga. ^_^
Itulah aku. Si ‘Tukang Tidur’.
Hmm.. aku tahu, kalau terlalu banyak tidur juga tak baik bagi kesehatan. Bahkan ada ulama yang mengatakan bahwa tidur adalah saudara dekatnya kematian.
Jadi, setelah mengatahui jeleknya kebanyakan tidur, aku pun mulai mengontrol durasi dan waktu tidurku. Mengikuti sunnah Rasul, aku pun membiasakan diri untuk tidur segera setelah shalat isya’, dan kemudian bangun di dua atau sepertiga malam terakhir. Jika sedang rajin, aku tahajjud. Dan jika sedang malas, aku memilih untuk membaca. Satu atau setengah jam sebelum shubuh, aku tidur lagi. Dan bangun saat adzan shubuh berkumandang. Untuk kemudian beraktivitas sepanjang siang dan sore. Lalu kembali ke rutinitas tidur setelah isya’. Begitu seterusnya. ^_^
Hmm… Bicara tentang tidur, aku pernah mengalami pengalaman aneh. Apa itu?
Jadi, aku pernah bangun dari tidur. Di mana saat tidur itu, aku bermimpi tentang aku yang baru bangun dari tidur. Nah! Dalam tidur di mimpiku itu ternyata aku juga bermimpi. Ha. Ha. Ha. Pusing ya? Coba tebak! Jadi sudah berapa kali tuh, aku bangun dari mimpi yang berlapis-lapis? ^_^
Nah.. Dalam mimpi di lapis terdalam, aku bermimpi sedang makan kue bolu di ruangan yang tak kukenal. Aku bersama seseorang yang juga tak kukenal dan ia terus menyuguhiku kue bolu yang serasa tak ada habisnya. Aneh ya? Gitu deh. Heran. Ternyata mimpi juga bisa berlapis-lapis. ^-^
Lalu, ada juga pengalamanku lainnya yang terkait dengan tidur. Tentang apakah? Begini ringkasannya..
Pada pertengahan Juli 2009, aku dirawat di Puskesmas Sepatan. Sebabnya adalah penyakit Typhus dan DBD. Selama seminggu aku dirawat di sana.
Malam pertama, badanku sangat panas. Aku bahkan hampir-hampir tak bisa mendengar pembicaraan Emak dan Mang Sarlan yang berdiri di dekatku. Mataku rasanya sudah ingin terpejam, tapi kupaksa diri untuk tetap terjaga, lantaran belum datangnya Bapak yang beberapa saat sebelumnya pergi untuk mengambil obatku di apotek. Usai Bapak datang, segera kuminum obatku dan menyerah pada rasa kantuk. Dan aku pun lelap.
Selama seminggu itu, kegiatanku hanyalah makan-tidur-makan-tidur.-buang air. Aku tak shalat. Lantaran jadwal haidku yang datang seminggu lebih cepat dari jadwal biasanya. Lebih sering sih, tidur. Bahkan bisa kuperkirakan bahwa waktu tidurku adalah 2/3 hari. Artinya, dari 24 jam dalam sehari, aku tuh tidur selama: 2/3 x 24 jam = 16 jam. Lama banget ya? Yap! Gitu deh. Entah karena efek samping dari obat atau memang kondisi tubuhku yang membutuhkan tidur lebih lama dibanding kondisi normalnya.
Akibat dari terlalu seringnya tidur, aku jadi tak mengetahui siapa-siapa yang datang berkunjung ke kamar inapku. Padahal sebenarnya banyak yang datang mengunjungiku ke Puskesmas. Meski begitu, keberadaan snack-snack (biskuit, roti, susu, buah) yang perlahan-lahan memenuhi meja di samping ranjang tidurku, selalu menjadi pengingatku akan kedatangan para pengunjung baru.
Saat itu aku sempat merasa sangsi bisa menghabiskan tumpukan makanan di meja pasienku. Tapi, camilan-camilan itu toh pada akhirnya habis juga. Sebagian dibagikan oleh Bapak kepada pasien-pasien di kamar lain yang rata-rata mejanya (kata Bapak) kosong dari makanan. Sebagian lagi, makanan itu habis dimakan olehku dan Bapak. Meski sakit, Alhamdulillah nafsu makanku masih cukup banyak. ^_^
Aih. Aiih… Lha kok bisa nyasar ke topik ‘makanan’ ya? ^o^ ha. Ha. Ha.
Oke. Kita lanjutkan lagi ke topik ‘tidur’.
Jadi, saat sakit, kegiatanku selalu berkutat antara makan-tidur lama-makan lagi-tidur lama lagi-ngemil-tidur lama lagi. Tahu-tahu sudah malam. Tahu-tahu sudah seminggu aku dirawat. Alhamdulillah. Di hari ke delapan aku diperbolehkan pulang ke rumah. Dengan catatan: masih perlu banyak istirahat dan makan yang cukup.
Perihal banyaknya jam tidurku saat itu, Bapak berkomentar. Katanya, “Meli seharian tidur melulu. Bangun sebentar cuma buat makan, terus tidur lagi. Ada temen Bapak datang aja Meli cuma melek sebentar”. Aku tersenyum setiap kali mengingat komentar Bapak ini.
Sebenarnya, tidur-tidurku saat itu termasuk ke dalam jenis tidur yang amat lelap. Hampir setiap malamku di Puskesmas selalu berakhir tanpa adanya mimpi, terkecuali di malam ke tiga.
Nah! Di tidur malam ke tiga aku memang bermimpi. Mimpi aneh. Sungguh! Mimpi aneh itu sejauh ini belum pernah kuceritakan pada satu orang pun. Tapi di kesempatan ini, aku akan menceritakannya di sini.
Malam itu, aku bermimpi sedang berada di suatu padang gersang yang tak kukenal. Hari nampak seperti sudah sore, dengan warna langit yang kuning kemerahan. Anehnya aku tak menemukan matahari di bagian langit mana pun. Tak mungkin tertutup oleh awan, makanya jadi tak terlihat. Karena sepenglihatanku, tak ada awan-walau secuil pun- di langit kemerahan itu. Sementara itu,di sekitarku, amat sedikit tetumbuhan yang bisa kutemui. Hanya ada beberapa rumput liar di tanah-tanah kering.
Awalnya, aku mengira hanya seorang diri di padang gersang itu. Tapi kemudian kusadari bahwa aku salah. Karena di beberapa tempat yang letaknya jauh dariku, berjalan pula beberapa orang lainnya. Kebanyakan sendiri, tapi ada juga yang berdua, bertiga, dan bergerombol.
Saat itu aku merasa heran. Hendak ke manakah orang-orang itu menuju? Kemudian kusadari sesuatu. Aku merasa tubuhku ditarik ke arah suatu tempat. Dan ternyata, arah tujuan tubuhku adalah sama dengan arah tujuan orang-orang dari segala penjuru di sekitarku. Aku sungguh heran.
Kemudian, tiba-tiba saja aku teringat. Aku ingat bahwa saat itu aku seharusnya masih sakit typhus dan DBD. Jadi, bagaimana bisa aku ada di tempat asing itu? Akhirnya, setelah beberapa detik kembali berpikir, aku pun menyimpulkan bahwa aku  sedang bermimpi. (aku sering mengalami pengalaman ini. Kesadaran bahwa diri sedang berada dalam mimpi.)
Aku pun segera mencubit pipiku agar segera terbangun. Tapi aku masih saja berada di padang gersang. Kembali kucubit pipiku. Kali ini dua-duanya. Tetap saja. Aku masih lelap dalam mimpi itu. Kemudian tiba-tiba saja kakiku lumpuh dan kedinginan. Aku berhenti berjalan. Aku pun terduduk, dan memilih untuk melihat orang-orang di sekitarku.
Di kejauhan sana, samar-samar kulihat ada sebuah papan besar yang tegak berdiri. Di dekatnya tampak sesosok berbaju putih terang yang menjaganya. Kemudian aku sadar. Bahwa apa yang awalnya kusangka papan ternyata adalah pintu. Karena beberapa saat sebelumnya aku melihat ada dua orang pemuda yang baru datang dan bercakap-cakap sebentar dengan sang penjaga pintu, kemudian masuk melewati pintu itu menuju ke dalamnya.
Aku kemudian dibuat takjub ketika melihat bahwa dua orang yang baru saja melewati pintu itu, malah menghilang. Pintu yang kulihat baik-baik itu adalah pintu yang berdiri tegak sendiri tanpa ada tiang yang menyangganya. Tak ada bangunan di padang gersang itu, sejauh aku memandang. Pintu itu benar-benar hanya berdiri sendiri. Hanya sebuah pintu dan penjaganya lah yang menjadi daya tarik orang-orang dari berbagai arah untuk datang ke sana. Pun termasuk juga aku, di saat-saat awal tadi.
Aku masih duduk dan merasa takjub dengan apa-apa yang kusaksikan. Pandanganku masih terkunci pada pintu dan penjaganya. Lalu, di suatu waktu aku dibuat kaget oleh adanya sebuah suara.
“pergilah. Jika kamu memilih tuk pergi. Waktumu belum tiba.”
Aku terkejut. Sangat. Entah kenapa aku sudah tahu, milik siapa suara tadi. Kulihat baik-baik sang penjaga pintu. Jarak kami saat itu lebih dari seratus meter. Meski begitu, samar-samar aku merasa yakin bahwa penjaga itu tersenyum kepadaku. Ini membuatku terperangah. Kakiku yang tadi sempat lumpuh dan kedinginan pun mulai kembali hangat. Dan tak lama kemudian, aku sudah terbangun dari mimpi aneh itu.
Ketika kubuka mata, ada Emak dan Bapak di samping ranjang. Kurasakan kakiku terasa hangat. Ketika kutengok, ternyata ada kresek hitam di dekat kakiku. Kuterka isinya adalah bubur. Benar saja. Bapak memang baru saja membeli bubur untuk sarapan pagi kami. Kuucapkan terima kasih kepadanya lewat senyuman. Entah kenapa, saat itu lidahku terasa kelu tuk bicara. Ingatanku masih menjejak di mimpi padang gersang.
Yah. Begitulah. Mimpi yang sungguh aneh. Entah apakah itu mimpi yang memiliki maksud atau hanya bunga tidur saja. Yang jelas, buatku mimpi itu memberikan kesan yang cukup dalam. Saat itu aku merasa bersyukur.
Aku bersyukur bahwa aku masih bisa melawan rasa sakit. Bersyukur bahwa Yang Maha Hidup memberkahiku kekuatan untuk bisa kembali sehat. Aku bersyukur karena keluargaku sangat memperhatikan kepulihanku saat itu. Mereka mengusahakan segala macam obat untuk kesembuhanku. Dan aku, yang meski sebenarnya tak suka dengan segala macam obat itu, akhirnya menguatkan diri untuk menelan setiap darinya. Karena aku ingin sembuh.
Begitulah…
Hmm.. Kurasa, cukup sampai di sini dahulu ceritaku tentang ‘Si Tukang Tidur’ ini. Insya Allah, akan ada kesempatan untuk bercerita lagi.
See Yaa!          ^_^

Kamis, 03 Juli 2014

Jaulah Kurma, Kenangan Lama



Kamis, 05 Ramadhan 1435 H.
Mendekati waktu subuh.

Huray!
Alhamdulillah!
^_^
Hari ini adalah hari ke-lima ramadhanku di 1435 H. Dan aku sudah b-o-l-o-n-g 2 hari. Hmm. Sedikit sedih sih. Karena harus b-o-l-o-n-g di awal bulan. Tapi tetap, alhamdulillaah… ‘ala kulli hal (puji syukur kepada Allah untuk setiap keadaan).
Btw, kemarin pagi aku dan bapak jaulah ke rumah-rumah saudara. Alhamdulillah tahun ini keluargaku pun bisa bagi-bagi kurma ke para kerabat terdekat kami, juga ke beberapa tetangga fakir. Senang rasanya hatiku setiap kali menjalankan rutinitas tahunan ini. Aku bisa bertatap muka, mengenal tetangga  fakir baru, belajar banyak hal dari kehidupan mereka-mereka yang kukunjungi, dan juga tak perlu pusing membuat alasan untuk bisa bermain (dan berlama-lama) di rumah bibi dan ua-ku. Hi. Hi. Hi. ^o^
[keluarga dari pihak bapakku termasuk ke dalam keluarga besar. Jelas aja lah keluarga besar. Lha wong 11 bersaudara.. dengan bapakku sebagai putra ke tiga. Nah, dari 11 bersaudara itu, hanya keluarga kecil bapak dan keluarga kecil Mang Amad lah yang memilih untuk tinggal memisah dari komplek rumah keluarga besar kami. Tak terlalu jauh juga sih. Sekitar 200 meter lah, jaraknya.
Sewaktu kecil, aku lebih sering tinggal bersama Mak Ati, tetehnya bapak, yang tinggal di komplek rumah keluarga besar kami. Saat itu emak sering pergi ngoyos, alias bantu nanam dan panenin padi di sawah. Sampai umur tiga setengah tahun, ketika rumah keluarga kecilku sudah dibangun, aku ikut pindah bersama emak, bapak dan herdi. Meski begitu, aku masih sering bolak/balik main ke rumah Mak Ati hingga umurku yang ke sembilan. Mulai umur belasan, diam-diam aku sering merindukan keramaian yang biasa menghiasi suasana di komplek rumah keluarga besarku itu. Berbeda jauh dengan suasana teduh dan hening di rumahku saat ini.]
Hari ini, aku berlama-lama di rumah Bi Umboh, adik bungsu bapak. Di rumahnya yang memang juga menjadi lokasi warung mungilnya, kudapati beberapa sepupu-sepupu mungilku. Ada Dina, Intan, Alvi, Adam, juga seorang anak tetangga, Yudhi. Di rumah Bi Umboh, mulai dari jam ½ 11 sampai ½ 3, aku mengobrol, mendengar ocehan dan fantasi para bocah tentang dunia kegaiban.
[Adam mengaku melihat kuntilanak sedang ayunan di tengah siang bolong itu. Tapi Dina menyanggahnya. Dina mengatakan bahwa itu bukan kuntilanak, melainkan Intan, sepupuku yang umurnya baru lima tahun. Dalam hati kubilang, “Adam tega bener. Masa’ Intan yang cantik gitu dibilang kuntilanak. Apalagi aku kalo lagi ayunan. Bisa-bisa dibilang wewegombel atau malah mak lampir. Hii..”.]
Aku pun menjadi barber dadakan (biasa… Dina dan Alvi memintaku untuk mencaci kelabang rambut mereka), dan juga… ngemil dan makan. ^o^ yap! Bareng Bi Umboh yang ternyata juga sedang haid, aku asyik melahap lauk tempe dan ikan asin dengan kuahnya sayur asem. Saat itu pintu rumah sengaja ditutup setengah. (Jelas aja laah.. kan malu, kalau ada orang yang lewat terus ngelihat kita lagi asyik makan!)
Jam ½ 3 aku pulang. Sesampainya di rumah, kulihat ada temannya Bunde Rum sedang memangku cucunya di bale. Nama cucunya adalah Tian. Anaknya lucu, chubby, aktif, dan ngegemesin. Tapi, begitu kupangku Tian dan kulantunkan surat al Baqoroh hapalanku, Tian langsung diam dan menyimak mendengarkan. Dalam hati aku bergumam, “bahkan bayi pun diam dan takzim manakala dibacakan ayat-ayat cinta-Nya”.
[ayat-ayat cinta = al Qur’an]
Si nini kemudian pamit pulang bersama cucunya, Tian. Tak lama kemudian, bapak pun berangkat kerja. Saat itu kulihat awan mendung di ufuk selatan. Selintas harap kubisikkan, “semoga perjalanan bapak lancar. Dan pas bapak pulang nanti, gak lagi hujan. Juga jalanan gak licin. Amin.”
Setelahnya Bunde’ Rum mengabariku. Katanya sewaktu aku pergi tadi pagi, ada dua orang teman priaku yang berkunjung ke rumah. Mereka mengabarkan berita tentang kematian anak seorang teman MTsku. Mereka sekaligus juga ingin mengumpulkan sumbangan untuk jaulah. Berdasarkan kriteria yang disebutkan oleh Bunde’, aku bisa menebak kalau yang datang ke rumahku tadi pagi, kemungkinan besar adalah Adi dan Oji. Sayangnya, aku tak memiliki HP untuk bisa langsung mengkonfirmasikan berita kematian itu ke Adi atau Oji. Jadi, kutunda dulu rasa penasaranku dan hanya mengirimkan do’a bagi entah-siapa-dari-teman-MTs-ku yang sedang menghadapi kehilangan. Semoga Allah menguatkan hati dan imannya beserta keluarganya. Amin.
Segera setelahnya aku pun beres-beres rumah. Saat aku sedang asyik merapihkan lemari, aku menemukan beberapa surat lama dan lembaran-lembaran puisi yang dibuat oleh beberapa sahabat, untukku. Ketika sekilas kubaca lembaran-lembaran itu, aku spontan saja tersenyum. Mendapati beberapa gelar dan pendapat teman-temanku tentangku tertulis di lembaran itu. Si bijak, baik, polos, pinter, konyol, efisien, kocak. ^_^. Tes… Aku pun menangis… dalam hati.
Hmm.. kenapa aku menangis dalam hati? Karena saat itu di teras depan rumah ada Bunde’ dan Emak yang sewaktu-waktu bisa saja masuk ke dalam rumah. Aku tak mau mereka melihatku menangis. Malu saja. Masa’, pas nanti ditanya kenapa menangis, aku jawabnya seperti ini, “habis baca surat-surat lama. Jadi terharu..”. jelas malu kan? Tipikal melankolis sungguhan ya, aku ini! ^_^
Nah! Usai membaca lembaran-lembaran surat itu, aku kembali membereskan rumah. Ya menyapu. Mengepel. Mencuci piring. Pekerjaan khas rumah tangga gitu deh. Alias pekerjaan yang tak terlalu membutuhkan kerja pikir. Alias lagi adalah pekerjaan kaki dan tangan (kebanyakan alias…). So, karena tangan dan kakikulah yang bekerja, otakku pun bisa kuajak melanglang buana. Aku pun, sambil beres-beres, berusaha mengingat kembali kenangan lamaku semasa kecil.
Aku ingat. Sewaktu kecil aku adalah seorang imajiner yang cukup kreatif. Aku sering berimajinasi dan membayangkan hal-hal hebat. Antara umur 4-9 tahun, aku sering berkhayal menjadi sosok-sosok tertentu. Melihat kuda di iklan TV hitam-putihku, aku pun gemar berlarian ke sana kemari sembari melompat setinggi-tingginya. Membayangkan bahwa aku adalah seorang pengelana kuda yang sedang berpacu menuju istana.
Mengingat kata ‘istana’ (kukenal kata ini pertama kali dari cerita nabi Sulaiman as. Tentang istana ratu Saba’), aku pun bertransformasi menjadi sosok ratu, setelah berganti baju dress hitam-putih milikku yang entah dulu telah Emak buang ke mana (udah kekecilan kali ya bajunya..). Aku pun menjadi seorang ratu yang senang memanggil pelayan-pelayannya dengan cara bertepuk tangan. Ha. Ha. Ha. Saat itu yang biasa menjadi pelayanku adalah Herdi (adikku nomor wahid se…………………..dunia. ^o^) dan entah-sepupuku yang mana.
Dari ratu, aku kemudian bisa berubah menjadi hewan-hewan. Menjadi kucing dengan ‘meow’nya, ular dengan desis dan jalan melatanya, kuda dengan ringkikan ‘hiyah’nya, anjing dengan ‘guk-guk’annya, juga menjadi beberapa hewan lainnya yang sudah kuketahui saat itu. Lagi-lagi, Herdi menjadi kawan mainku.
Menjadi seorang imajiner, aku tak hanya kreatif dalam hal ‘menjadi sosok tertentu’. Aku pun cukup kreatif dalam hal ‘membuat’. Bersama Herdi dan para bocah yang tinggal di sekitar rumah, aku menjadikan halaman rumahku berubah menjadi medan yang berbeda-beda setiap harinya. Terkadang menjadi pasar, di mana aku adalah pedagang kuenya. Kue yang kubuat dari tanah biasanya selalu menarik perhatian para pembeli, karena kubentuk dan kuhias menjadi mirip dengan kue sungguhan. Hiasan yang kugunakan biasanya adalah dedaunan atau biji bunga yang kutemukan di sekitar rumah.
Dari menjadi pasar-pasaran, aku bisa mengubah halaman rumahku menjadi medan perang, di mana kami semua asyik bermain kejar-kejaran untuk menangkap pencuri. Di sini, aku menjadi polisinya. Berbekal ranting kayu yang kusulap menjadi pistol, aku bersama konco-koncoku kelelahan usai menangkap pencuri yang biasanya bukan hanya satu orang, melainkan bisa dua atau tiga orang.
[konco-konco = teman/anak buah]
Selanjutnya, aku juga biasa mengubah teras rumahku menjadi bumi perkemahan. Jadi begini. Kursi duduk di rumahku adalah mirip seperti kursi yang biasa dipakai di acara hajatan. Seingatku sih ada tiga kursi seperti itu di rumahku. Nah. Biasanya, dua dari tiga kursi itu kubaringkan. Lalu bagian kakinya kututupi dengan samping. Aku dan Herdi pun akhirnya bisa pura-pura sedang berkemah di dalamnya.
Yah. Begitulah kreatifnya aku di masa kecil. Kalau sekarang sih, kekreatifanku lebih berwujud dalam bentuk dunia kata, alias tulisan. Malu juga sama umur kali ya… masa’ sudah umur 20-an gini masih mau main petak umpet atau jadi ratu-ratuan. Dari pada gitu, mending sekalian aja akting, masuk TV! Hi. Hi. Hi. ^o^
Oke. Kita lanjutkan!
Selain imajiner, aku juga diberkahi oleh Allah dengan curiousity yang tinggi. Apa sih curiousity itu? Curiousity itu artinya rasa ingin tahu, alias rasa penasaran. Aku hampir selalu ingin tahu tentang hampir semua hal. Emak bahkan menjulukiku cerewet, bawel (julukanku sewaktu kecil. Kalau sekarang sih, gak tahu juga deh… ^_^). Dalam ceritanya, Emak menuturkan bahwa aku seringkali bertanya tentang hal-hal sekitar.
“Mak, ini apa, Mak?”
“Mak, itu apa?”
“Ini buat apa, Mak?”
“Yang itu, buat apa?”
“Kok bisa begitu, Mak?”
Pertanyaan-pertanyaan itu biasanya dijawab Emak dengan jawaban-jawaban singkat. Dan ketika aku sudah puas dengan jawaban yang kudapat, aku kemudian menyentuh benda-benda yang sebelumnya telah kutanyakan. Setelah kusentuh, benda itu kuraba-raba (mengira mungkin ada lubang rahasia di dalamnya. Aku memang sering berimajinasi tentang benda-benda ajaib), kuamati garis dan lekukan bentuknya, bahkan terkadang juga kugigiti. Untuk hal yang terakhir ini, Emak mengakui kalau ia sering langsung mengomeliku dan segera menarik benda yang kugigiti. Lebih sering, setelahnya aku menangis sangat kencang.
Hmm.. Suatu kali Emak pernah bercerita tentang masa bayiku. Pernah di suatu kesempatan saat Emak tak begitu memperhatikanku yang asyik bermain, ia sangat kaget ketika mendapati aku (sekitar umur sembilan bulan) sedang duduk deprok di tanah depan rumah dengan bibir belepotan oleh tanah basah dan kuning-kuning entah-apa. Setelah didekatinya aku, ternyata kuning-kuning itu adalah ‘mpup’-ku sendiri. Hiiii……… aku cukup jijay setiap kali mengingat cerita ini. Tapi sekaligus juga merasa geli. Lucu saja jika membayangkannya. ^o^ (ha. Ha. Ha. Udah ah! Jangan dibayangin!).
Oke. Kita lanjutkan lagi!
Nah, selain pertanyaan-pertanyaan singkat, aku juga (kata Emak) sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ‘njelimet, alias memusingkan. Simak saja dialog antara aku (sekitar umur 5-6 tahun) dan Emak berikut ini.
Aku      : Mak, kenapa semutnya baris? (lagi ngelihatin barisan semut di tanah)
Emak   : (lagi jemurin baju. Mikir sebentar sebelum jawab pertanyaanku) lagi latihan pramuka, kali.
Aku      : Pramuka? Oo.. yang bajunya cokelat-cokelat itu ya, Mak?
Emak   : Iya.
Aku      : Mak, tapi semutnya pake baju item-item. Bukan cokelat! (aku protes)
Emak   : (Masih sabar. Mikir sebentar)… itu namanya semut item. Dan semut gak pake baju, Mel.
Aku      : (Mengernyit heran)… gak pake baju? Berarti kedinginan ya, Mak?
Emak   : (Diam, tak menjawab. Pertanda mulai tak sabar dengan ocehanku)
Aku      : (Dengan polosnya menyimpulkan) jadi, karena dingin, makanya semutnya baris ya, Mak? (aku tersenyum dengan ideku itu)
Emak   : (Diam sebentar)… iya.. gitu lah.
Ha. Ha. Ha. Aneh banget ya dialog di atas?. ^_^ persis bangetnya dialog itu dengan dialog kami bertahun-tahun yang lalu sih aku tak bisa memastikannya. Tapi kurang lebih redaksinya ya seperti itu lah.
Nah. Ada juga obrolan lainku dengan Emak yang lebih nyeleneh (ngawur/kacau) lagi. Ini dia.
Aku      : Mak, meli suka biru. Emak suka apa? (lagi asyik menggambar)
Emak   : (sedang menjahit baju) hijau.
Aku      : (mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar) ^o^
Emak   : (heran melihatku) kenapa, Mel?
Aku      : Meli seneng. Langit warnanya biru. Bukan hijau. Nanti bisa sama kayak pohon. Meli gak suka langit hijau! (aku semangat menjawab)
Emak   : (berhenti dari kegiatannya, dan melihatku heran)
Yah.. seperti itulah. ^o^. ha. Ha. Ha. Mengingat cerita-cerita itu, aku sering merasa lucu sendiri. Aku tak ingat dengan percakapan-percakapan itu. Karena yang kuingat dari masa balitaku hanyalah betapa seramnya Emak setiap kali aku pulang (mepet) maghrib sehabis bermain seharian--tak ingat pulang untuk makan. Emak marah sangat dan sering mencubiti pahaku sekencang-kencangnya. Emak memang tak mengomel panjang. Tapi cubitannya itu loh, sungguh dahsyat sekali! Buktinya: hanya kenangan itu saja yang kuingat dari masa kecilku.
Menginjak bangku MTs, aku masih cukup aktif bertanya. Selain menjadi ketua berandal anak-anak kecil di kampungku, aku juga mendapat gelar baru di sekolah menengah pertamaku itu. Gelar itu adalah si polos dan si tukang tidur. Mengingat dua gelar itu membuatku merasa aneh. Karena tak lama sebelumnya, ketika aku masih duduk di bangku SD kelas 6, aku mendapat gelar si kancil. Lantaran aku yang saat itu, meski termasuk si trio mungil di kelas (Irma, Fitri, dan Aku), adalah yang paling aktif dan gemar terlibat masalah dengan kawan-kawan kelasku. Tak melihat lawanku itu laki-laki (Didi Rosadi dan Rijal) ataupun perempuan (Ida dan Nina). Tak melihat juga postur badan lawan-lawanku yang semuanya lebih besar dariku. Aku berani melawan jika mereka berani mengusikku atau mengusik teman-temanku (Yeni, Heni, Dewi).
[kutulis nama lawan-lawanku di paragraf atas bukan dengan maksud untuk mencemooh mereka yang namanya kutulis. Aku menuliskannya hanya demi maksud untuk mengingatkan diri tentang betapa baiknya kawan-kawanku itu karena telah meramaikan dunia masa kecilku dengan beragam pengalaman. Mungkin sewaktu kecil dulu, aku tak terlalu memahami kebaikan yang mereka ajarkan kepadaku. Tapi ketika aku mulai beranjak besar, aku mulai menyadarinya.
Misalnya adalah Ida dan Nina yang memberiku julukan ‘si Kancil’ lantaran aku adalah si kecil yang paling gesit larinya di antara banyak kawan sekelas kami. Aku tak tahu mengapa mereka tak menyukaiku. Karena seingatku, aku tak pernah ingin menjadi orang yang pertama kali membuat masalah. Tapi Ida dan Nina seringkali menjahiliku dengan kejahilan-kejahilan kecil. Seperti tiba-tiba saja mengacak-acak rambutku yang dulu sempat keriting (karena rambut keriting inilah aku juga dijuluki ‘si kepala bakmi’ oleh Rijal. Dulu sih itu sebutan yang menyebalkan sekali. Kalau sekarang, sudah tidak lagi. Entah karena aku yang sudah besar, atau karena rambutku yang kini tak lagi keriting, melainkan lebih mendekati ikal. Sekarang, aku justru merindukan rambut keritingku.), melempariku dengan gulungan kertas ketika guru di depan kelas sedang tak melihat, menginjak sepatuku yang masih terlihat bersih dengan sepatu mereka, dan yang paling sering adalah menjulukiku ‘si kancil’ di mana pun dan kapan pun kami bertatap muka. Dulu aku mungkin merasa sangat sebal dengan segala perlakuan iseng mereka. Tapi perlahan, apa yang mereka lakukan terhadapku itu ternyata memunculkan satu tekad di benakku. Bahwa aku tak akan melakukan apa yang mereka lakukan kepadaku terhadap orang lain karena itu akan membuatku menjadi orang yang menyebalkan. Dan aku sungguh tak mau menjadi orang yang menyebalkan. Gak banget deh.
Dan sama dengan apa yang dilakukan oleh Didi dan Rijal kepadaku. Aku juga memancangkan tekad bahwa aku tak akan melakukan apa yang telah mereka lakukan terhadapku juga terhadap kawan-kawanku. Yah, seperti itulah. ^_^]
Jadi, aku merasa aneh. Karena gelar yang kudapat di bangku MTs sungguh berkebalikan dengan gelar kancil-ku dari bangku SD. Antara si pasif dan si aktif.
Aku dijuluki si polos, lantaran aku yang sering bersikap polos. Banyak tak tahu. Banyak tak mengerti dengan kejadian-kejadian atau reaksi simpel yang ditunjukkan oleh kawan-kawan MTs-ku. Simak saja ulasan berikut.
Ketika teman-teman sibuk menertawakan si A, lantaran di atas mejanya ditulisi nama si B, teman-temanku asyik ber-‘cie-cie’. Sementara aku yang saat itu (kelas 1 MTs) belum paham dengan istilah pacaran, malah polos bertanya ke Lilis (teman sebangkuku). “kenapa pada ketawa, sih?”. Aku yang saat itu, hanya tahu bahwa kita tertawa jika ada hal yang lucu. Sementara ‘cie-cie’an teman-temanku saat itu sungguh bukan termasuk hal yang lucu. Malah kupikir ‘cie-cie’an mereka termasuk ke dalam ucapan mencemooh. Dan karena aku sendiri pernah dicemooh dengan berbagai gelar aneh sewaktu SD, aku pun tak bisa tertawa dengan ‘cie-cie’an kawan-kawanku itu.
Lilis, yang selama itu juga tak tertawa, kemudian malah tertawa mendengar pertanyaanku. Dengan sabar ia menjelaskan perihal si B yang suka pada A dan teman si B iseng menuliskan nama si B di meja tulis si A. Itulah sebabnya teman-teman ber’cie-cie’. Aku yang sudah diberi penjelasan oleh Lilis masih juga merasa bingung. Tak mengerti perihal cinta monyet di usia awal remajaku dulu itu.
Selain bersikap polos, aku juga sering terlambat tertawa. Maksudnya?
Jadi begini. Teman-teman MTs-ku semuanya kan termasuk keturunan Sunda tulen. Otomatis ucapan-ucapan mereka pun banyak disisipi kata-kata dan frase khas Sunda. Nah! Aku yang keturunan JaSun (Jawa-Sunda), meski sudah hidup lama di Jati (kawasan Sunda), tidak terlalu bisa menyerap kata-kata Sunda ke dalam ucapan keseharianku. Mungkin ini juga disebabkan oleh kebiasaan orangtuaku yang berbahasa Indonesia dalam percakapan di rumah.
Percaya tak percaya, sejak kecil aku sudah bisa memilih sendiri mana kata-kata kasar dan mana kata-kata halus. Aku yang dibesarkan Emak dan Bapak dalam lingkungan rumah yang menjunjung tinggi adab kesopanan pun akhirnya memilih untuk tidak berucap Sunda. Kenapa? Karena dalam penilaianku saat itu, Sunda di Jati tempat tinggalku itu termasuk ke dalam bahasa Sunda yang kasar. Alhasil, di MTs, aku pun dikenal sebagai sosok yang paling mendekati dalam kategori ‘menggunakan bahasa yang sesuai dengan EYD’. Ha. Ha. Ha. ^o^
[EYD = Ejaan Yang Disempurnakan , alias bahasa baku]
Oke. Kita lanjutkan lagi ya!
Jadi, setiap kali ada teman MTs-ku sedang berkelakar dengan bahasa Sunda-nya hingga membuat teman-teman lainnya tertawa, aku dengan polosnya langsung bertanya. “barusan dia cerita apa?”. Spontan saja teman-temanku makin tertawa lebar. Dan ketika ada salah seorang yang mau berbaik hati menjelaskan kepadaku arti kata-kata yang tidak kuketahui hingga aku akhirnya mengerti dan ikut tertawa, yang lain pun kembali tertawa lebar. Beberapa dari mereka kemudian berkata, “meli polos banget sih”. Setelahnya, setiap kali aku bergabung dalam pembicaraan Sunda, pasti ada saja satu-dua temanku yang bersedia menjadi penerjemah cerita untukku. ^o^ hi. Hi. Hi.
Aku ingat. Ada seorang teman pria MTs-ku yang sebenarnya adalah orang Sunda tulen. Tapi, setiap kali ia bicara denganku, ia hampir selalu membuatku tertawa. Bagaimana bisa? Jadi menurutku, mungkin demi mengimbangi gaya bicaraku, temanku itu akhirnya selalu berusaha untuk bicara dengan kata-kata yang EYD. Simak saja kalimatnya berikut ini.
“Amel, pe-er-nya dikumpulkeun isuk ya”
Atau juga yang ini.
“Amel bisa nyieun sepanduk bersama Pani nteu. Harus  poe Rabu jadina.”
Ha. Ha. Ha. Acak adut bener ya! ^o^ kocak bener dah! Hi. Hi. Hi. (maaf ya na.. ^i^. gak maksud ngomongin lho.. Cuma nulisin cerita tentang kamu aja di sini. ^l^ hi. Hi. Hi.)
Jadi, begitulah.
Di masa MTs, aku juga mulai bertransformasi dari seorang penjelajah dan pemimpi, menjadi seorang pribadi yang lebih senang menjadi seorang pengamat dan pendengar yang baik. Bagaimana bisa? Jadi begini…
Sejak kecil aku sudah terlalu sering merecoki orang sekitarku dengan pertanyaan-pertanyaan anehku. Itu kulakukan demi mengentaskan rasa ingin tahuku terhadap banyak hal. Nah, ketika MTs, aku mendapatkan pemahaman baru. Saat itu aku mulai menyadari bahwa di dunia ini ada amat sangat sedikit orang-orang yang dengan senang hati mau menerima celotehanku tentang banyak hal. Tak banyak yang mau ditanya tentang macam-macam hal yang sebenarnya juga tidak mereka ketahui jawabannya. Kebanyakan orang lebih senang mengobrolkan hal-hal yang telah diketahuinya, terlebih  lagi adalah tentang hal-hal yang disukainya. Oleh sebab itu, aku mulai mencari cara lain untuk bisa mengentaskan rasa penasaranku. Caranya adalah dengan membaca, mengamati, dan menjadi seorang pendengar yang baik.
Aku senang membaca. Aku menjadi seorang penggila baca ketika memasuki MTs. Meski begitu, aku sudah mulai aktif membaca semenjak aku duduk di bangku SD kelas tiga. Saat itu aku memiliki guru wali kelas yang sangat mendukung murid-muridnya untuk membaca. Nama beliau adalah Bu Nunung. Bu Nunung ini termasuk guru favoritku di SD. Beliau adalah tipikal guru yang ceria, semangat, sekaligus tegas. Setiap pelajaran hari itu berakhir, Bu Nunung selalu mengingatkan kami—murid-muridnya—untuk bermain ke perpustakaan. Ia membujuk kami dan mengatakan bahwa ada banyak hal-hal menarik yang bisa kami baca di buku-buku itu. Aku, yang termasuk salah satu murid yang paling sering disebut namanya olehnya ketika pelajaran matematika berlangsung, akhirnya terbujuk dengan ajakannya dan selalu menyempatkan diri untuk ke perpus sebelum pulang ke rumah.
Meski awalnya aku sebal ketika mendapati bahwa buku-buku di perpus itu sudah tampak tua, tapi kemudian aku dikejutkan oleh fakta bahwa apa yang diucapkan oleh Bu Nunung itu memang benar adanya. Ada banyak hal-hal menarik yang bisa kubaca di buku-buku yang setiap lembarannya sudah menguning kecokelatan itu. Ada buku tentang cara menanam berbagai jenis buah jambu dalam satu pohon. Ada juga buku tentang cerita kemerdekaan (aku suka dengan kisah-kisah heroik). Juga buku-buku lainnya yang saat ini sudah tak kuingat lagi isinya tentang apa.
Sayangnya, kegiatan membaca itu hanya kulakukan sampai aku duduk di bangku kelas empat saja. Karena di kelas lima, aku sudah mulai jenuh dan sibuk dengan beberapa tugas prakarya sekolah. Aku mulai jarang pergi ke perpus hingga akhirnya tak pernah lagi ke sana.
Dan kemudian, di MTs, kegemaran membacaku kembali muncul. Bahkan mulai menggila. Bagaimana tidak? Lha wong bahan bacaanku bukan lagi buku saja. Melainkan juga koran, majalah, paper kakak kelas yang banyak kata-katanya tak kumengerti tapi tetap asyik kubaca, buku bergambar, kertas pembungkus gorengan di kantin, juga kertas apa pun yang kutemukan ketika aku berjalan di mana pun. Tentang hal yang terakhir kusebutkan tadi, aku memang benar-benar mengambilnya dari jalanan untuk kemudian kubaca dan akhirnya kubuang ke tempat pembakaran sampah yang juga kutemui di jalan yang kulewati. Aneh kah? Hmm.. aku lebih senang menamai kegilaanku dalam membaca itu dengan istilah bookaholic, meng-copy dari istilah ‘sophaholic’.
[sophaholic = gila belanja
Bookaholic = gila buku]
Nah. Dari kegiatan membaca, aku tak hanya bisa mengentaskan rasa ingin tahuku tentang banyak hal. Aku juga bisa mendapatkan informasi tentang hal-hal baru dan menarik yang belum pernah kuketahui. Sungguh menyenangkan rasanya setiap kali aku mengetahui hal-hal baru. Kosa kataku pun sudah mulai merambah ke istilah-istilah asing.
Aku senang dengan pelajaran Biologi dan Bahasa Inggris. Karena dua pelajaran itu selalu saja mengejutkanku dengan bendahara istilah yang baru dan unik, menurutku. Oryza sativa, loccus, mucus, Argentum sp., unilateral, monohybrid. Unik kan istilah Biologi barusan? Tengok juga kata-kata Bahasa Inggris berikut ini. Dear, bear, wear, near, clear, tear. Meski tulisannya mirip dan bahkan beberapa kata pelafalannya juga mirip, tapi setiap kata tersebut memiliki makna yang jauh berbeda satu dengan lainnya. Menurutku, itu lucu sangat! ^-^ sangat. Sangat. Sangat. (copy gaya bicara si Ipin, ‘betul. Betul. Betul!’. Hi. Hi. Hi.)
Itulah asyiknya membaca, menurutku.
Selanjutnya, di MTs juga lah aku mulai semakin aktif menjadi seorang pengamat dan pendengar yang baik. Objekku pun tak lagi bersifat saintis. Aku mulai senang mengamati perilaku orang-orang sekitarku dan membuat kesimpulan-kesimpulan kecil dari pengamatan itu. Misalnya ketika kuamati kegiatan seorang temanku yang memiliki kebiasaan mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja ketika pelajaran masih berlangsung. Ketika kudapati kebiasaan itu juga dilakukan oleh beberapa orang temanku lainnya, aku membuat kesimpulan. Setelah berkali-kali mengamati kegiatan mereka selama beberapa waktu, kesimpulanku adalah bahwa mereka termasuk orang-orang pertama yang segera bangun dari kursinya untuk entah pergi mendekati kursi teman lainnya atau pergi keluar kelas, menuju kantin dan/atau wc. Kesimpulan itu memang simpel sifatnya. Meski begitu, dari kesimpulan-kesimpulan simpel itulah aku mengasah kemampuan untuk menganalisis dan (ketika SMA) mulai berani membuat hipotesis untuk kemudian beberapa hipotesis itu kuuji dengan perlakuan tertentu hingga akhirnya menunjukkan hasil/fakta tentang sesuatu.
Bahasaku mulai njelimet ya? ^-^ oke deh. Maaf. Kita cukupkan tentang hipotesis dan tetek-ngek-nya.
Jadi, dari membaca, mengamati dan mendengarkan itulah aku bisa mengetahui banyak hal.
Oya, aku juga jadi ingat. Ketika MTs, aku juga mulai sering bermain ke rumah teman-temanku. Ketika bermain ke rumah mereka, aku tak hanya sekedar bermain lho. Terkadang aku juga ikut membantu kegiatan di rumah mereka. Beberapa kegiatan itu antara lain ikut bersama Lilis membantu tetehnya melipat baju dan memasukkannya ke dalam plastik untuk kemudian dijual. Aku juga pernah ikut membantu memberi makan ikan lele di kolam kecil keluarga Yuli. Membantu Mut mengumpulkan biji petai cina pun, aku pernah. Dan banyak kegiatan-kegiatan seru lainnya.
Dari kegiatan-kegiatan itu, ada banyak hal yang bisa kudapatkan. Tak hanya sekedar undangan makan siang gratis atau cemilan oleh-oleh untuk kubawa pulang (Hi. Hi. Hi. ^i^). Melainkan lebih kepada rasa puas diri ketika melihat orang-orang di sekitarku tersenyum. Sekaligus juga mengentaskan rasa ingin tahuku tentang banyak hal.
Dari kunjungan-kunjunganku itu pula aku mendapat gelar lainnya. Yakni tamu yang cerewet, lantaran terlalu banyak bertanya. Tanya inilah. Tanya itulah. ^_^ yah. Begitulah.
Sampai saat ini, masih ada sebagian sifat masa kecilku itu yang melekat pada kepribadianku. Sayangnya, kusadari bahwa aku yang saat ini tidaklah sebaik aku yang dulu. Hmm.. sedih juga, sih. Padahal ‘kan, salah satu moto hidupku adalah:
“Menjadi lebih baik, di setiap waktunya”
Begitulah…
Oke. Kurasa cukup sampai di sini dulu ceritaku. Saat ini jarum jam sudah menunjuk di angka 7. Subhanallah! Cukup lama juga ya, aku menulis. Kulirik jari telunjuk kananku sebentar.
“waaahhh… udah manyun! Ha. Ha. Ha.” (ya iyalah! Gimana gak manyun jarinya, kalo dipake nulis berjam-jam. Dari sebelum subuh sampe jam tujuh tuh bukan waktu yang sebentar kan?.. ^-^)
[awalnya, aku memang menulis catatan ini di kertas-kertas file buatanku. Sebelum akhirnya kupindahkan catatan itu ke dalam komputer dan ku-publish di sini.]
Yap! Sudah dulu ya!
Insya Allah, ada kesempatan berikutnya untuk bercerita.
Wassalam.

[catatan: tentang gelar ‘tukang tidur’, insya Allah akan kuceritakan di laman ini. See Yaa!]