Tampilkan postingan dengan label all about life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label all about life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 April 2017

Saat Diam-mu adalah Emas...😊

Baru-baru ini, kesabaranku dan Aa tengah diuji. Sebabnya adalah perihal hutang. Dimana kami berkali-kali (3 kali) mendapatkan janji kosong perihal pembayaran hutang dari orang lain. Orang yg sama. Hmm...☺

Ini bermula pada Kamis, 23 Maret lalu. Saat itu Aa sedang mengaji Yaasiin usai maghrib, sementara aku baru selesai membaca surat Luqman (anjuran dari Ust. mulya untukku yg sdg hamil. Plus doa keselamatan dan kesehatan untuk janin juga dari beliau). Dari kamarku bisa kudengar suara kedatangan seorang tamu perempuan yg mengetuk pintu depan rumah Emak. Dari suaranya, tak kukenal siapa tamu itu.☺

Aku yg hendak menengok isi kulkas pun akhirnya pergi ke ruang tamu. Di sana kudapati Emak tengah berbincang dg seorang ibu2 seumurannya. Di dekatnya kulihat pula seorang anak usia sekitar 10 tahun. Jelas, aku tak mengenal kedua tamu itu. Walau samar2 aku merasa pernah melihat sang ibu entah di mana. Aku lupa.😅

Kubuka kulkas dan segera melihat isinya. Kuambil sebuah pisang untuk kucemil selagi menunggu Aa selesai mengaji. Saat kututup, sang tamu ternyata melontarkan pertanyaan (atau permintaan?) padaku. Ia hendak meminjam uang untuk keperluan biaya sekolah anaknya. 300 ribu. Aku tak segera mengiyakan ataupun menolak pertanyaan ibu itu. Kenapa?😮

Hendak menolak, kulihat si ibu seperti sedang sangat terdesak dan benar2 membutuhkan uang itu. Untuk biaya sekolah anaknya pula.😐

Hendak mengiyakan pun aku tak langsung bisa. Karena aku tak mengenal ibu itu dan tentu aku juga harus meminta ijin Aa terlebih dahulu. Karena uang yg kupunya saat itu adalah uang belanja dari Aa.😐

Akhirnya aku segera pamit sebentar untuk menanyakannya kepada Aa. Pas sekali. Aa juga sudah selesai mengaji.😊

Saat kuutarakan pertanyaanku. Dengan segala sebab dan kondisi sang ibu, Aa pun mengijinkan ku untuk memakai uang belanja untuk dipinjamkan pada ibu itu. Tapi dengan aturan, 200 ribu dari uang belanja dan 100 ribunya dari dompet pribadi Aa. Segera kami siapkan uang 300 ribu itu untuk kemudian kuberikan pada sang ibu. Sang ibu menjanjikan untuk mengembalikan nya pada esok sore jam 5.

Aku sebenarnya sempat waswas, jika2 si ibu tak menepati janjinya. Tapi segera kuluruskan niatku untuk membantu si ibu dan memilih untuk berkhusnudzon saja. Padanya. Juga pada Allah tentunya. 😊 Aku percaya, bahwa setiap niat yg baik insya Allah akan membawa kebaikan pula kepada pelakunya. 😊 Maka bismillah. Ku bersihkan hati dan pikiranku dari pikiran2 su'udzon yg menggelisahkan.😊

Keesokan harinya, sang ibu benar datang. Sebelum membicarakan topik hutang, si ibu menanyakan persiapan surat2ku untuk mendapatkan jamkersal (program pemerintah yg menggratiskan biaya persalinan). Barulah kuingat kalau beliau adalah salah satu kader posyandu di desaku.

Kuutarakanlah padanya perihal ketidaksiapan kami (Aa dan aku) untuk menyiapkan KK. Sebabnya adalah terkait dengan permasalahan E-KTP yg memang tengah ramai diperbincangkan di TV. Si ibu menawarkan diri untuk membantu agar KK yg bisa kupakai sementara ini adalah KK Emak. Aku dan Aa bersyukur. Berharap semoga usaha sang ibu perihal KK itu berhasil. Aamiin.. 😊

Setelah selesai membincangkan KK dan jamkersal, barulah kami beralih topik ke hal hutang. Si ibu menuturkan dg wajah menyesal bahwa ia belum bisa membayarnya. Aku agak kecewa. Tapi setelah mendengar alasan ketidakmampuannya (karena suaminya tak mendapatkan pinjaman dr tempat kerjanya), aku pun memafhumkan. Ia menjanjikan pengembalian uangnya pd hari senin. Aku pun mengiyakan.

Senin tiba, tapi sang ibu tak kunjung datang. Mulailah pikiran su'udzon kembali mengisi benakku. Tapi segera kutepis hal itu. Sampai tiba hari selasa, si ibu tak jua datang. Aa pun menanyakan. Dan kujawab apa adanya. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengunjungi rumah si ibu. Walau sebenarnya aku tak tahu persis letaknya di mana. Tapi bisalah aku bertanya-tanya.

Rencana kunjungan itu kulakukan keesokan harinya. Si ibu ada di rumah. Sayang disayang, jawaban si ibu kembali negatif. Alasannya gajian suaminya belum turun. Hm.. Aku mulai agak pesimis. Tapi karena alasan si ibu masih logis, aku pun memafhuminya lagi. Si ibu kembali berjanji akan mengembalikan pinjama nya di akhir Maret.

Aku pulang. Untuk mengabarkan berita itu pada Aa. Awalnya aku agak cemas Aa akan marah atau gimana. Tapi ternyata ia hanya berkata,
"Udah, Neng. Jangan ditanyain lagi ke ibunya. Klo uang belanjanya habis, gakpapa bongkar celengan juga."

Duh.
Hebatnya si Aa. Ia begitu legowo. Aku pun mengiyakan dan dalam hati mulai pula kutanam bibit kepasrahan. Pikirku, aku jua akan memasrahkan perkara hutang ini pada Allah saja lah. Alhamdulillah jika si ibu benar bisa membayar hutangnya. Tak bisa pun juga tak apa-apa. Toh setiap apa yg kupunya adalah milik Allah. Termasuk uang 300ribu itu yg juga adalah titipan. Dan aku juga sudah terbebas dari kewajiban menanyakan hutang.

Ya. Setiap orang yg memberikan pinjaman memang memiliki kewajiban untuk mengingatkan si peminjam tentang hutangnya. Minimal sekali. Hukumnya sama seperti saling mengingatkan di saat saudara sesama muslim sedang khilaf. Karena hutang juga sebuah kekhilafan. Apalagi hutang juga termasuk satu hal yg akan menahan amal shaleh seseorang di akhirat nanti. Hii... 😣 semoga kita tehindar dr berhutang ya, kawan.

Intinya, sampai aku selesai membuat catatan ini, pinjaman itu belum juga kuterima kembali. Si ibu malah kembali menjanjikan untuk membayarnya pada akhir april nanti. Kali ini dg alasan yg makin absurd. Katanya, Suaminya menabrak anak kecil dan harus membayar biaya pengobatan anak itu.

Hmm.. Aku mulai agak kasihan dengan si ibu. Entah benar atau tidak ucapan2nya selama ini. Jika benar, nasibnya sungguh malang karena ditimpa kesulitan yg bertubi-tubi. Jika tak benar, ia tentu akan kembali pusing untuk memikirkan begitu banyak alasan ketidakmampuannya untuk membayar hutang. Mau buat alasan apalagi coba?

Cukup tentang kisahku.😊
Ada ibroh yg bisa kudapat dari peristiwa hutang ini.

Aku bisa saja marah, mencerca bahkan menuntut si ibu atas sikapnya yg lalai perihal hutang. Tapi kemudian aku melihat Aa. Dg segala sikap legowonya. Sadarlah aku bahwa aku tak perlu bersusah payah untuk marah2. Marah2 pun belum tentu uang kami kembali. Dan aku juga sadar bahwa uang itu adalah salah satu titipan-Nya. Jadi Ia berhak untuk mengambilnya dg cara2 yg dipilih-Nya. Kuanggap saja peristiwa ini sebagai ujian kesabaran bagi Aa dan aku. Juga pelajaran untuk kami lebih mawasdiri dg segala kepribadian disekitar kami. Maka aku tak marah. Sungguh tak marah. 😊

Aku juga bisa membuka aib sang ibu ke khalayak ramai. Cukup memberitahukan Emak, maka kukira Emak akan langsung "melabrak" si ibu. Tapi kemudian aku kembali ingat. Bahwa membuka aib orang lain itu termasuk salah satu perbuatan yg tak terpuji. Aku juga teringat dg sebuah hadits yg menyatakan bahwa siapa yg menampakkan aib orang lain, maka Allah pun akan menampakkan aibnya dalam cara yg lebih keji. Hii.. Ngeri.. 😣

Aku juga bisa "curhat" di medsos, baik dg menyebut atau tidak menyebut nama si ibu. Seperti juga yg dilakukan beberapa kawanku (walau dg permasalahan yg berbeda). Tapi buat apa coba marah2 tak jelas di medsos. Hanya membuat isi wall-ku jadi kotor dg hujatan saja. Hmm.. Tak usahlah ya.

Akhirnya aku memilih untuk diam. Diam adalah senjataku menghadapi peristiwa ini. Aku tak akan lagi mengeruhkan pikiranku dg bersu'udzon. Biarlah Allah yg memutuskan. Karena aku yakin Dia Maha Tahu akan apa yg terbaik untuk setiap dari kami.

Aku memilih tuk move on. Cukup bagiku memfokuskan diri pada hal2 baik lain di sekitarku. Tak perlu berlarut-larut memikirkan peristiwa hutang ini yg hanyalah masa lalu. Bukankah cara terbaik untuk membalas keburukan di masa lalu adalah dg merencanakan hal-hal baik di masa depan? So, let's move on! 😊

Dan aku juga memilih untuk diam.
Semoga kediamanku ini adalah emas. Sesuatu yg membawa kebaikan padaku dan keluarga. Aamiin.. Allahumma aamiin...
😊😊😊

Sekian catatanku.
Salam hangat ya, kawan! 😊😉😋

Rabu, 29 Maret 2017

Tak Mudah Menjadi Bumil...

Perubahan fisik. Hormon. Mood. Selera terhadap sesuatu (makanan, bau, minuman, hobi). De el el..

Perlu ekstra sabar untuk menghadapi semua perubahan itu. Sabar yg juga mesti disertai dengan istighfar. Ya. Istighfar.. 😊 Karena di saat moody itulah si "tanduk merah" (aka. Setan) beraksi. Menjadi si pembakar emosi.😡

Bisa-bisa "meledak" deh. Bikin hati jadi keki deh. Jadi "gelap" deh rasanya dunia. Dan yg paling tak enak adalah bikin orang terdekat tetiba aja jadi orang terjauh. Jauuuuuuhh banget.😥

Tak mudah ya? 😕

Tak apa-apa.. Dinikmati aja.😊
Karena toh ganjarannya "wahaha". Alias luaarrr biasa.☺

Karena di saat kita membiasakan diri untuk mawasdiri, di saat itulah kita juga sedang mengajarkan calon "dede" di rahim.

Kita mengajarkan ia tentang kesabaran dan ketakwaan. Yang semoga dengannya kelak si "Dede" pun akan menjadi orang yg sabar dan bertakwa.

Aamiin.. Aamiin.. Aamiin.. Allahumma Aamiin... 😊

...
...
Menjadi bumil memang tak mudah. Tapi dengan "bismillah", insya Allah segalanya dipermudah.

#semangat.yap.bumil.😊😉😄

Kamis, 23 Maret 2017

Dan Kamu pun Menjadi...

Dede Soleh.

Itulah panggilan dari kami (Aa & aku) untuk janin dalam kandunganku.😊
Sebuah panggilan baik. Yang juga mengandung harapan terbaik kami untuk anak kami. 😊 Seorang anak yg Soleh. Aamiin..Allahumma Aamiin...😄

Di usia kandungan yg sudah sekitar 6 bulan ini, kami memang belum mengetahui jenis kelamin si Dede. Sebabnya, dalam konsultasi terakhir ke bidan, kami telat mengetahui bahwa bidan yg selama ini kami kunjungi ternyata tak memiliki sarana USG. Alhasil kami putuskan untuk melakukan USG nya di kesempatan konsultasi berikutnya pada bidan yg lain. Insya Allah...😊 Sementara itu, aku masih berkeyakinan bahwa si Dede adalah seorang putra. Sama seperti perkiraan Aa. Berbeda dengan persangkaan Bapak yg mengira bahwa si Dede adalah seorang putri. Hmm..
"Yang manapun kamu, yg penting sehat dan Soleh ya, De..." 😘😘😘

Kembali ke soal panggilan/sebutan/gelar. 😊

Sejak kapan kiranya Si Dede kupanggil Soleh?...Sejak kutahu bahwa sistem pendengarannya sudah mulai berfungsi dan aku pun teringat bahwa memanggil dengan nama yg baik juga diharuskan dalam salah satu ayat Al Quran (Q.S. Al Hujurat ayat 11). Sejak itulah aku gemar menyapa Dede sebagai "Dede Soleh". 😊
And of course I know that sometime in the future, I have to explain The meaning of Soleh to him/her. Agar ia bisa menyelaraskan akhlaknya sesuai dengan panggilan kami untuknya. 😊

Lebih lanjut, gelar "Dede Soleh" ini juga muncul akibat dari seringnya aku mendengar panggilan2 tak baik di sekitarku. Memang, panggilan tak baik itu tidak ditujukan untukku. Tapi berangkat dari kesadaran bahwa si Dede dapat ikutan mendengar panggilan2 kasar itu, aku pun berusaha untuk mengimbanginya dengan cara memperdengarkan kata2 yg baik pada Dede.

Panggilan2 kasar itu mungkin untuk sebagian orang dianggap sebagai lelucon atau panggilan akrab saja. Semisal "gendut", "cungkring", dll.. Tapi menurutku, panggilan2 yg meski menggambarkan fisik apa adanya dari orang yg dipanggil itu mengandung makna mencela. Dan itu tentunya termasuk hal yg tak baik. Aku bertanya2. Apakah mereka yg gemar memanggil dg panggilan2 seperti itu tidak menyadari bahwa ia sudah menghina fisik makhluk ciptaan Allah? Siapalah diri kita jika berani mencela hasil karya-Nya yg sempurna?
Ishk.. ishk.. iiishk... Sombong niaaann... 😔

Bukanlah telah jelas jua Allah memerintahkan kita untuk memanggil seseorang dengan gelar yg baik. Seperti yg difirmankan-Nya dalam Q.S. Al Hujurat ayat 11.

Juga, sudah menjadi salah satu hak setiap anak untuk mendapatkan nama yg baik. Sehingga Kukira, panggilan "Dede Soleh"  untuk janin dalam kandunganku tidaklah berlebihan bukan? 😊

Harapku, semoga orang2 yg dimaksud dalam postingan ini bisa segera menyadari kekhilafannya terkait pemberian gelar seseorang. Agar kita bisa memberikan gelar yg baik untuk hal terbaik yg ada pada orang lain.
Dan mungkin kelak di masa depan nanti, panggilan "si Pintar", "si Soleh", "si cerdas" dll itu bisa menjamur. Aamiin...😊😊😆

Cukup sekian postinganku kali ini. Semoga bermanfaat dan menjadi pelecut bagi kawan2 untuk gemar melakukan salah satu amal Ma'arif, yakni memberikan gelar yg baik pada setiap orang.

Salam semangat hujan, kawan!
Ciao MA! 😋😉😄

Selasa, 14 Maret 2017

Aibku, Aibmu, Aib Siapa?

Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Semangat pagi!! \😄/
Semoga kawan2 selalu dlm keselamatan dan keberkahan Allah yaa.. Aamiin..😊

Nah.
Postingan kali ini ada kaitannya dengan postinganku sebelumnya yg berjudul "single or married, apa bedanya?". Di mana kali ini aku akan lebih menguraikan salah satu poin kewajiban seorang istri, yaitu menjaga kehormatan suami.😊

Dalam postinganku itu aku menuliskan beberapa tindak nyata istri dalam menjaga kehormatan suami. Di antaranya adalah menutup aurat, tidak mempersilahkan lelaki asing masuk ke dalam rumah di saat suami tak ada, senantiasa melakukan apa yg disenangi oleh suami (tentunya yg tidak keluar dr koridor Islam ya, kawan. 😉), serta menjaga aib diri, suami, dan aib keluarga.

Terkait menutup aurat, kawan2 tentu sudah tahu bahwa itu wajib hukumnya untuk dilaksanakan. Salah satu manfaat utamanya adalah demi terhindar dari godaan2 lelaki iseng. Dari sinilah kehormatan suami juga bisa ikut terjaga. Karena saat seorang wanita telah menikah, ia tak lagi dikenal sebagai "si fulanah". Melainkan juga sebagai "istri si fulan". Alhasil, jika kehormatan istri terjaga karena menutup aurat, maka kehormatan suami pun akan ikut terjaga. Ya bukan, kawan?😉

Poin berikutnya adalah senantiasa melakukan apa yg disenangi suami. Termasuk salah satunya adalah tidak mempersilahkan  tamu lelaki masuk ke dalam rumah di saat suami tak ada. Tentunya kawan2 juga bisa menduga bahwa hal ini dimaksudkan agar kehidupan keluarga bisa tehindar dari fitnah. Dan bukankah jika suami senang, maka itu juga menandakan keridhaannya pada kita?😊 kawan2 ingat juga kan, kalau ridha Allah untuk wanita yg sudah menikah itu ada pada keridhaan suaminya? Jadi, yuk kita rajin menyenangkan hati suami agar Allah pun senang dan sayang sm kita. 😉 eh, tapi ingat juga dg aturan2 Islam ya.. Jangan sampai karena demi menyenangkan suami, malah membuat kita melakukan hal2 yg menyebabkan dosa. Na'udzubillaaaahi min dzaalik. 😕

Contoh terakhir cara menjaga kehormatan suami adalah menjaga aib diri, suami, juga aib keluarga. Nah. Ini dia nih yg sering kudapati pelanggaran nya. Sebelumnya aku minta maaf yaa kalau ada yg tersungging dg tulisanku ini. Aku hanya berniat menyampai kan apa yg kutahu adalah kebenaran. Dan karena kita diperintahkan juga untuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan maka aku tak akan segan2 untuk melanjutkan tulisanku di postingan ini.

Jadi... Seringkali kudapati para kembang (istri) bercuit2 perihal kekurangan pasangan kumbangnya (suami) di medsos (media sosial semacam facebook,twitter, path, dll). Membaca status2 berisi curhatan perihal masalah rumah tangga di medsos itu sungguh membuatku miris. Aku sering bertanya dalam hati, tidakkah mereka yg sering curhat di laman publik itu sadar bahwa mereka sedang membuka aib mereka sendiri? 😕

Apalagi jika status2 itu mendapat tanggapan dan rentetan pertanyaan dr para "friend". Semisal "kenapa?", atau "ada apa?". Lalu kembali dijawab oleh statuser (sebutanku tuk para peng-update status). Bukankah itu akan memanjangkan kegiatan pembukaan aib?

Aku juga cukup yakin bahwa proses curhatan di medsos yg seperti itu juga termasuk dalam kegiatan gosip, aka. ghibah. Wuiihhh... Sereeeemn.. 😣 Dalam Alquran kan ghibah diumpamakan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Apalagi yg sedang dighibahkan tuh suami or keluarga sendiri. Te-ga-nyaaaaaa..😥

Bukankah seharusnya suami-istri bertindak sebagai pakaian? Sebagai penutup cacat sekaligus juga penghias pasangannya? Lalu kenapa banyak yg mudah tergoda untuk curhat keburukan pasangannya ya? Tanya kenapa..tanya kenapa..😑

"Pasanganku nyebelin."
"... Nyakitin."
"...Ngecewain."
De.el.el.

Oke..si dia mungkin bukan pangeranmu yg sempurna. Dia mungkin tak sebaik harapanmu tentangnya saat sebelum menikah. Tapi bukankah proses akad nikah itu telah kita lalui dengan kesadaran bahwa kita siap untuk membina rumah tangga bersamanya?😮

Kawan ingat dengan kisah Asiyah bukan? Itu loh.. Istri fir'aun-nya di zaman nabi Musa as. Beliau mendapat pasangan yg zalim, tapi beliau tetap berbakti kepada suaminya dan senantiasa berusaha mengingatkan sang fir'aun tentang kebenaran yg dibawa Musa as. Beliau tak segan2 melakukannya karena menyadari bahwa ia berkewajiban untuk melakukannya. Meski pada akhirnya ia pun dipenjara dan wafat dalam pengurungannya. Tapi ia mendapatkan ganjaran atas amal shalihnya itu. Karena Allah membalasnya dg janji istana di syurga. Subhanallah..😇

Itu baru kisah Asiyah. Belum lagi kisah2 para salafus shalih lainnya. Seharusnya itu kita jadikan contoh dalam membangun rumah tangga. Seharusnya itu juga membuat kita sadar bahwa seperti namanya, rumah tangga itu berundak2 layaknya tangga. Ia dibangun dg kesabaran, ketelitian, bertahap, dan dengan aturan yg jelas dan benar. Jadi, ada proses yg perlu dilewati. Semangat! Semangat! \😄/

Aku mengakui.. Mudah mungkin untuk menuliskan postingan ini. Dan sulit untuk merealisasikannya. Tapi yg sulit bukan berarti tak bisa, bukan? 😊 karenanya, Yuk senantiasa mendekat pada Allah yg Maha Kuasa. Minta kepada-Nya kebaikan dunia-akhirat. Minta kepada-Nya agar kita bisa memperindah akhlak kita dg ketakwaan. Agar kita bisa menjaga kehormatan diri, suami dan keluarga. Agar keridhaan suami akan begitu mudahnya kita miliki. Agar kita bisa memiliki hati yang tenang sekaligus juga jiwa yg diridhai. Seperti yg difirmankan-Nya dalam Q.S. AlFajr ayat 27-30.

"Hai jiwa2 yg tenang..
Kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yg puas lagi diridhai-Nya.
Masuklah ke dalam jamaah hamba2-Ku.
Dan masuklah ke dalam syurga-Ku."

Wallahu a'lamu bishshawab...
😊😊😇

Jumat, 10 Maret 2017

Single or Married, Apa Bedanya?

Adakah bedanya menjadi wanita single dengan wanita yg sudah menikah/married?

Jawabannya, jelas ada. Ada banyak sekali perbedaannya malah.
Kawan2 mungkin sudah mengetahui apa sajakah perbedaannya itu. Tapi tak apa juga kan jika kutuliskan beberapa hal yg kutahu. Anggap saja sharing ilmu. Jadi jika ada yg ingin menambahkan atau mengkritisi kesalahan, silahkan disampaikan di bagian komentar. Kita saling tolong-menolong dlm kebaikan ya, kawan. 😉

Menurutku, perbedaan utama wanita single dengan wanita yg sudah menikah adalah terletak pada jenis hak dan tanggung jawabnya. Ini tentu berlaku juga untuk para lelaki. Tapi dalam postingan ini, aku hanya akan menuliskan hak dan kewajiban dr sudut pandang wanita saja ya, kawan. 😊 Ini lebih dikarenakan genreku sendiri yg seorang wanita, jadi pemahamanku jelas lebih mengetahui hak dan kewajiban wanita sebelum dan sesudah menikah. Sementara tentang hak dan kewajiban lelaki, mungkin ada dari kawan2 yg sudah pernah menuliskannya. Atau mungkin nanti aku bisa membujuk Aa (panggilan tuk my hubby..😊) untuk menuliskannya. Hehee.. 😁

Yang pertama adalah terkait dengan hak.
Nah.
Saat masih single, seorang wanita mempunyai hak yg sama seperti manusia pada umumnya. Hak untuk hidup, hak untuk dihargai dan dihormati, hak untuk bekerja, dll. Sementara ketika sudah menikah, ada tambahan hak baru yg diacu kepada suaminya. Semisal hak untuk dinafkahi serta hak untuk dibimbing menjadi istri yg shalehah.😇

Untuk hak yg terkait pemberian nafkah, ada dua jenis nya. Yaitu hak nafkah lahir dan hak nafkah batin. Hak nafkah lahir yg dimaksud adalah terkait pemenuhan kebutuhan fisik aka jasmani wanita. Seorang istri mempunyai hak untuk memiliki jasmani yg sehat dan terawat. Itu pula sebabnya terdapat sebagian kalangan yg berpendapat bahwa uang belanja yg diberikan oleh suami harus dibedakan dg uang jajan istri. Maksudnya suami harus pula memberikan nafkah istri untuk jajannya. Tentunya uang jajan ini pun digunakan untuk perawatan tubuh yg dimaksudkan untuk menyenangkan hati suami pula. Adapun sebagian kalangan yg lain berpendapat bahwa uang jajan istri itu menyatu dg uang belanja dan sifatnya tak wajib dipenuhi.

Mengikuti pendapat yg manapun, yg jelas pemenuhan kebutuhan nafkah itu dibebankan kepada para lelaki/suami. Jangan sampai terbalik (seperti dlm sinetron Dunia Terbalik di R*TI.. Hee.. 😁). Adapun setiap penghasilan yg didapat oleh seorang istri dari hasil bekerja adalah menjadi miliknya pribadi. Jika ia gunakan untuk membantu pemenuhan kebutuhan dapur ataupun kebutuhan hidup keluarga lainnya, maka itu akan dianggap sebagai sedekahnya kepada suami dan keluarga. Wiih.. Keren banget ya aturan Islam yg satu ini?😉

Jenis hak nafkah lainnya adalah nafkah batin. Nafkah batin ini mencakup hak untuk dihormati, dihargai dan disayangi, serta hak untuk diberikan keadilan dan ketenangan hati. Untuk hak agar dihormati, dihargai dan disayangi sudah jelas harus dipenuhi. Terlebih lagi wanita adalah makhluk perasa yg memiliki insting kasih sayang yg lebih tinggi dibanding lelaki. Sehingga ia pun mengharapkan perlakuan yg serupa/istimewa pula dlm hal penghormatan dan kasih sayang. Wanita juga sama seperti lelaki yang ingin mendapat penghargaan atas kontribusinya dalam membina keluarga. Itulah kurasa pentingnya membudayakan ucapan "maaf", "tolong" dan "terima kasih" dalam lingkup keluarga. Karena saat suami membiasakan diri untuk mengucapkan tiga kata tersebut maka itu menunjukkan  bentuk penghargaannya terhadap istri sebagai seorang manusia yg juga memiliki harkat dan martabat. (Hidup! Tiga kata Heiibaaatt!!! \😄/)

Selain penghormatan, penghargaan dan kasih sayang, wanita juga memiliki hak untuk mendapatkan keadilan dan ketenangan hati. Keadilan ini terkait dalam hal kesetaraan dalam mengemukakan pendapat, perlakuan yang tidak zalim, dll. Sementara untuk hak mendapatkan ketenangan hati ini mencakup segala sikap dan perbuatan suami yg dapat menimbulkan ketenangan hati istrinya. Salah satu contohnya adalah menjunjung tinggi kesetiaan terhadap pasangan. So, don't make mistake by the untruthfull-act ya para suami..(Cling..cling.. Ngedipin mata ke Aa.. 😏)

Nah.. Ada satu jenis hak lain yg dikategorikan sebagai hak nafkah lahir sekaligus juga hak nafkah batin. Hak itu adalah hak untuk dipenuhinya kebutuhan biologis. Untuk penjabarannya, kurasa tak perlulah ya dituliskan. I'm just too shy to write about it. Tehehee..😁😁😊

Lanjuut...

Hak lainnya seorang istri adalah hak untuk mendapatkan bimbingan menjadi istri yg shalehah. Ini terkait juga dengan kewajiban seorang suami yg adalah seorang imam keluarga. Seperti yg telah disebutkan dlm alquran Tentang kewajiban menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Maka jika disandarkan pada ayat ini, jelas seorang istri mempunyai hak untuk dibimbing menjadi istri shalehah. Karena hanya dengan keshalehan dan ketakwaan sajalah ia bisa selamat dr siksa api neraka.😊

Cukup tentang hak.
Sekarang kita lanjut ke bahasan terkait kewajiban wanita sebagai seorang istri ya, kawan..😉

Ada banyak buku yg menjabarkan kewajiban seorang istri terhadap suaminya. Dari sekian banyak buku itu, aku mendasarkan materi tulisanku ini pada buku Yg berjudul "40 Tanggung Jawab Istri terhadap Suami". Dan dari 40 tanggung jawab/kewajiban istri dalam buku itu, aku meringkasnya menjadi tiga poin penting, yaitu menjaga harta, keluarga dan kehormatan suami.

Menjaga harta. Ini terkait dg segala harta yg diperoleh dari hasil bekerja suami. Kebanyakan istri mungkin memegang kendali atas hasil jerih payah suaminya, tapi hak istimewa itu juga harus dibarengi dg rasa tanggung jawab. Bahwa ia akan membelanjakan harta itu untuk kepentingan keluarga. Jangan lupakan juga aspek kehalalannya. Maksudnya, uang itu harus pula digunakan  untuk hal2 yg halal. Dan yg tak kalah penting juga tidak boleh boros/mubadzir. Karena telah kita ketahui bahwa para mubadzirin adalah teman dekatnya syaitan. Hiii.. Na'udzubillaahimin dzaalik. 😑

Oya. Ada baiknya juga jika setiap pengeluaran yg sifatnya non-belanja diketahui oleh suami. Semisal kita ingin memberi orang tua kandung kita sebagian rizki dari hasil kerja suami, maka akan lebih baik jika sebelumnya kita memberitahu/meminta izin suami terlebih dahulu. Ini dimaksudkan agar bisa terhindar dari kesalahpahaman. Namun jika uangnya berasal dari hasil usaha sendiri, maka tak apa2 tidak memberitahu suami juga.😊 hmm.. Jangan menganggap remeh perihal masalah keuangan ini ya kawan. Karena seringkali kurangnya komunikasi terkait hal ini justru menjadi pemicu pertengkaran dlm keluarga. Nah. Nah. Nah. 😊

Selanjutnya adalah tentang menjaga keluarga. Dalam hal ini mencakup menjaga diri, anak2, dan suami ya, kawan. Tugas menjaga ini tidak hanya dibebankan kepada kaum lelaki saja lho. Karena Allah Maha Tahu bahwa terkadang lelaki/suami pun mempunyai masa2 kelemahannya. Di saat itulah seorang istri mengemban tugas menjaga itu. Atau di saat suami sedang tak ada di sisi (dinas keluar kota, mungkin? 😅), maka istri lah yg bertugas untuk menjaga kesejahteraan dan keselamatan anak 2 di rumah.

Seorang istri juga berkewajiban untuk mengingatkan suami saat ia melakukan kekhilafan. Terlebih-lebih kekhilafan dlm hal agama. Diingat lagi ya kawan perintah Allah dlm Q.S..... Tentang kewajiban menjaga diri dan keluarga dr siksa api neraka. 😉

Yg terakhir adalah menjaga kehormatan suami. Beberapa tindak nyata kita untuk menjaga kehormatan suami antara lain; menutup aurat, tidak mempersilahkan masuk lelaki asing ke dalam rumah di saat suami tak ada, senantiasa melakukan apa yg disenangi oleh suami (tentunya yg tidak keluar dr koridor Islam ya, kawan. 😉), serta menjaga aib diri, suami, dan aib keluarga.

Nah. Itulah oret2anku perihal hak dan kewajiban seorang wanita married/istri. Banyak banget kan tambahan perbedaannya?😁 Tak seperti wanita single yg segala pertanggungjawabannya terletak di tangan sang ayah/saudara lelakinya. Wanita married menjadi pertanggungjawaban suaminya. Sehingga keshalehan kita juga menjadi amal ibadah untuk suami.

Untuk kawan2 yg sayang suami, yuk atuh kita gemar memperbaiki diri. Biar kian shalehah. Kian cantik luar-dalam. Biar suami juga balik sayang. Dan Allah juga malaikat ikutan sayang. Biar kita juga bukan termasuk para wanita yg dikatakan nabi menjadi penghuni terbanyak di neraka. Hii.. Na'udzubillah ya kawan. 😕

Oke deh.. Cukup sekian dulu ya.. Insya Allah kita jumpa lagi di postingan berikutnya!😄

Ciao Ma!😉😊😘

Rabu, 15 Februari 2017

Lambungan Asa

Asa. Harapan. Keinginan.
😊😊

Setiap orang memiliki asa. Siapa yg tak punya? Karena asa adalah fitrah hidup manusia. Sepanjang ada nafsu, selama itu pula asa ada. Karena asa itu sendiri adalah bagian dari nafsu. Lebih persisnya adalah nafsu lawwamah. 😊

Bentuk asa ada bermacam-macam. Mencakup materi dan non materi. Contoh asa yg sifatnya materi adalah keinginan untuk memiliki benda2 (mobil, rumah, handphone, dll.). Sementara asa yg sifatnya non materi adalah keinginan untuk mencapai sesuatu yg sifatnya tidak/tidak langsung kebendaan. Semisal keinginan untuk naik haji dan/atau umroh, keinginan untuk jalan2 ke dalam/luar negeri, dll.

Nah. Aku sendiri memiliki banyak asa. Dan salah satu yg paling mengemuka di benakku saat ini adalah keinginan untuk mendapatkan anak kembar yg sehat nan soleh di kehamilanku saat ini (aamiin.. 😊). Keinginan yg juga menjadi milik Aa. 😊

Kami (Aku dan Aa) sudah lama mengetahui tentang asa kami yg sama ini sejak sebelum kami menikah. Meski kami juga mengetahui bahwa ada perbedaan mendasar perihal asa anak kembar ini.

Jadi, Aa berharap untuk mendapat anugerah 2 putra kembar yg sehat nan shaleh. Sementara aku berharap untuk mendapat anugerah sepasang anak kembar (putra dan putri) yg sehat nan shaleh. Syukurnya kami tak terlalu 'ngotot' mengemukakan keinginan kami dan menyerahkan segalanya pada kehendak Allah Swt. Biarlah Dia yg Memutuskan yg terbaik untuk kami berdua. Karena memang Allah lah yg Maha Tahu apa yg terbaik bagi hamba-hamba-Nya. 😊

Pertanyaannya...
Bisakah kami meraih asa kami ini?
Dg yakin, aku menjawab,
"Insya Allah bisa."_😊

Aku tak pernah ingin menutup kemungkinan, bahwa kami bisa memiliki anak kembar. Meski tak ada riwayat anak kembar dari kedua pihak keluarga kami. Tapi aku selalu yakin dg pepatah,
"Satu-satunya hal yg tak mungkin adalah ketidakmungkinan itu sendiri."😊
Jadi, kurasa tak ada salahnya bukan jika kita melambungkan asa kita? Mungkin saja ada malaikat yg 'kebetulan' lewat dan mencatat asa-asa kita utuk kemudian disampaikan nya pada Allah swt. Dan jika kiranya Allah menganggap ada kita itu baik untuk dikabulkan, tercapai lah asa kita. Iya, kan? 😊

Apalagi Allah sendiri memerintahkan kita untuk tidak berputus asa terhadap rahmat-Nya. Perintah yg jelas-jelas Dituturkan-Nya dalam kitab suci al quran nan mulia. (Q.S. ,............... ) 😊

Jadi, yuk kita lambungkan asa-asa kita, kawan. Semoga saja Allah berkenan tuk mengabulkan. Adapun jika ada asa2 lama yg tak jua Dikabulkan oleh-Nya, jangan juga berkecil hati dan su'udzon pada-Nya ya..😊 Bisa saja asa itu memang belum waktunya untuk dikabulkan. Atau malah Allah begitu sayang sehingga tidak melulu mengabulkan apa yg kita inginkan.😊

Eh, jadi inget juga sama quote ini,
"Allah  mengabulkan apa yg kita butuhkan, bukan apa yg kita inginkan."😊
Jadi, tetep khusnudzon ya, kawan. 😉😘

Nah. Kurasa cukup sampai di sini dulu catatanku perihal "asa". Semoga saja ada ibrah atau manfaat darinya ya.

Salam hangat tuk semua kawan,

Tetap semangat di musim hujan juga ya!
😉😘

Selasa, 07 Februari 2017

Pemburu Kepala...

Judulnya serem ya? Hihihi.. 😁 maaf ya kawan. Keisengan semata dari ku yg ingin buat judul yg serem. Sebenarnya judul ini ada kelanjutannya lho. Dan gak nyeremin kok. Yaitu, "Pemburu Kepala...Ikan." 😁

"Apaan sih?"
"Judulnya gak penting banget."
"Gak lucu"
"Garing. Ring. Kayak kerupuk kaleng di warteg sebelah."
De el el...

Untuk kawan2 yg gampang sensitif dg postingan ini, monggo bangkit ke pintu keluar. Yg mw lanjut baca, monggo duduk manis kembali... (Hihihi..😁)

Sebenarnya, siapakah gerangan sang pemburu kepala ikan itu?
Jawabannya gak perlu jauh-jauh nyari ya kawan. Itu loh, yg nulis postingan ini. Which is Me. Me thea.. 😊

Yup. Akhir-akhir ini aku gemar dg kepala ikan. Sampe bikin orang rumah bosen mungkin karena aku terus2an belanja ikan. Mereka sih dpt badan n buntut. Dan aku selalu lebih dulu memilah milih kepalanya untuk jd lauk ku. Rasanya nikmat banget sih. Apalagi pas bagian ngisepin otak ikannya. Trus minyaknya. Hmm... Yummyyy... ☺☺☺

Apalagi setelah kutahu kalau minyak dan otak ikan itu kaya banget akan omega 3. Nutrisi yg bagus banget bwt perkembangan otak janin. Makin yummy deh aku makannya. 😁

Kuharap sih kegemaranku makan ikan ini gak akan seperti kegemaranku makan cilok atau piscok. Meluntur. Iyaa. Aku sekarang udah gak terlalu nge-fond makan cilok n piscok. Rasanya di lidah malah pahit gitu. Padahal aku belinya di ibu-ibu langgananku. Hmm.. Mesti say bye-bye deh ke ibu itu. Karena sekarang aku udah gak suka nyahutin "neng, cilok, neng"-nya si ibu itu. Maaf ya, Bu.. 😅

Kembali ke kepala ikan.

Salah satu kegiatan yg paling kusuka terkait ikan adalah saat aku belanja bareng Emak. Yup. Be-lan-ja-ba-reng. Terserah orang mau bilang aku anak mommy or anak Emak. Toh aku ngerasa fine-fine aja. Emakku juga cukup asyik kok. Dan paling asyik ya saat nyaksiin Emak tawar menawar harga sama pedagang. lucu. Hihihi. 😁

Jadi... Saat belanja, Emak tetiba aja langsung nunjukin muka datar dan nawarin barangnya dg setengah harga yg di tentu in sang pedagang. Bikin aku ngerasa kasihan juga sama pedagangnya. Tapi rasa kasihan itu gak bertahan lama. Karena kemudian aku dikejutkan oleh pedagangnya yg nge-iya-in tawaran harganya Emak. Baru deh nalarku bekerja dan nyadarin. Kalo harga yg ditawarin Emak itu terbilang normal. Gak mungkin juga kan pedagang nya mw buntung. Berarti memang pedagangnya yg matok harga yg kelewat tuingguiiiiii.. Ishk.ishk.iiiisshhk.. Nakal banget ya tuh pedagang. 😑

Eh. Tapi gak semua pedagang kayak gitu loh. Ada juga kok pedagang yg matokin harga normal. Sampai-sampai Emak aja gak ngelakuin prosesi tawar-menawar-tarik-urat-uratan.. 😊 salah satu contohnya ya para pedagang ikan.
"Hidup pedagang ikan!! Hidup!" \😆/

Jadi, gitu deh tentang ikan dan kegemaranku selaku pemburu kepala ikan. Well, mungkin gak banyak (atau malah gak ada? 😁) manfaat yg bs kawan2 dpt dr membaca postingan ini. Tapi kuharap, tulisan ini bisa sikit-sikit lah menghibur. 😊

Akhir kata,

Ciao Ma! 😉😘

Rabu, 18 Januari 2017

Menjadi Ratu 9 Bulan? Enak?

"Bulan planet mana yg jumlahnya ada 9, Bi?"
Itu guyonanku kepada salah seorang bibiku saat ia mengatakan bahwa salah satu masa bahagia dalam hidupnya adalah saat ia menjadi ratu 9 bulan. Aku sih sebenarnya tahu apa maksud asli kalimat bibiku itu. Hanya saja aku iseng mencandainya. Hee.. 😄

Jadi, maksud sebenarnya dr ratu 9 bulan adalah saat seorang wanita sedang hamil. Oke.. Memang ada juga yg usia kehamilannya tidak sampai 9 bulan, tapi umumnya kan usia optimal bayi siap lahir adalah 9 bulan lebih sekian hari dalam kandungan. Begitu bukan? 😉 pun jua dengan bibiku itu.

Bibi menceritakan saat bahagianya ia hamil putra pertamanya. Saat itu, segala permintaannya di turuti. Mau makan apa, dicari. Mau minum apa, dibeli. Mau jalan-jalan ke mana, di pergi ( 😁 ). Pokoknya, bak jadi ratu deh. Apalagi saat hamil, bibi tak mengalami sindrom hamil yg parah. Tak seperti cerita bibi2ku yg lain. Ia masih bisa asik jalan2 ke Tj. Pasir bersama suaminya. Katanya sih honey moon season 2 gitu deh. Hhh.. Ada-ada aja. 😐

Beruntungnya bibiku itu. Tak sperti beberapa bibiku yg lain. Karena ada dari mereka yg bahkan mesti bedrest selama 7 bulan kehamilan nya dg asupan makanan and minuman yg bisa dibilang terbatas. Mau minum air putih aja mualnya ampun2an.

Aku ingat. Kondisi itu juga yg pernah kualami di bulan kedua dan ketiga masa kehamilanku. Aku lebih sering bedrest. Walau alhamdulillah nya masih bisa melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga yg ringan2 (nyapu, ngepel, nyuci baju n piring). Tapi tetap, setiap kali usai melakukan setiap kegiatan, aku harus selalu istirahat. Karena jika tidak, alamat akhirnya adalah muntah-muntah parah.

Acapkali aku mengeluhkan kondisiku. Itu didasari karena kekhawatiranku akan asupan makanan yg bisa diserap si Dede sangat amatlah sedikit. BB ku turun 5 kg. Wajahku kian tirus tak karuan. Jalan kuyu, mata cekung bak begadang bermalaman. Pokoknya kondisiku ngenes deh..😑

 Alhamdulillah nya Aa sabaaarrrrrr banget. Beliau sering mengingatkanku bahwa mengeluh itu gak ada gunanya. Bahwa kondisiku masih terbilang normal seperti ibu hamil muda lainnya. Bahwa nanti pun nafsu makanku akan kembali normal atau malah abnormal diluar biasanya. Pokoknya, aku mesti sabar dan terus berjuang tuk makan.

 "Gakpapa dimuntahin juga. Gampang. Tinggal makan lagi. Mau makan apa, nanti dibeliin. Pinginnya apa, tinggal bilang aja. Bla..bla..bla.." gitu kata Aa.

Bener2 bak ratu ya?
Tapi ratu yg lagi kepayahan...

Jadi, kalo ditanya, enak gak jadi ratu 9 bulan? Aku bakal jawab,

"Ada suka dan dukanya. Ada enak dan gak enaknya. Dinikmatin aja...
Tapi... kalo mikirin apa yg bisa didapet setelah perjuangan menjadi ratu 9 bulan. Hmm.. Kayaknya nikmat banget deh."

Jadi bener kan, dinikmatin aja.. 😊😊😊

Ciao Ma! 😉😚

Sabtu, 14 Januari 2017

Oke-nya Pacaran Setelah Menikah (Bag. 2)

Rasanya pacaran sesudah menikah?
Manis-manis krenyes gitu deh.. Hee.. 😉😆

Eh, tapi serius! Memang rasanya manis banget kok di hati. Dan krenyes-krenyes renyah gitu kayak kerupuk, alias seru.

Bayangin aja gimana rasanya makan es krim untuk pertama kalinya. Excited, harap-harap cemas, dan akhirnya bikin ketagihan kan? Kalo kamu gak suka es krim, ganti aja deh pake es kelapa, es teh manis, es cendol atau apalah minuman favoritmu. Gak cuma hilangin haus. Tapi juga ninggalin kesan yg We-O-We, alias WOW di hati. Bikin kamu langsung suka dan pingin lagi dan lagi.

Nah. Seperti itu deh pernikahan buatku. Hmmm.. Tapi bukan berarti aku ketagihan nikah loh ya.. 😃 maksudku tuh, aku ketagihan sama hidup setelah menikah. So far feel so good. ☺

Alhamdulillah.. aku jadi punya temen curhat baru yg asyik dan bisa amanah banget jagain aib-ku. Ya iyalah. Kan memang suami-istri tuh udah kewajibannya saling menjaga aib kan? Seperti layaknya pakaian bagi satu dan yg lain gitu deh.Saling menutupi juga saling memperindah. Betul betul-betul?. 😄

Selain itu, aku juga jadi punya temen jahil yg baru dan seru. Eiitt, Gak cuma aku loh yg bertindak selaku si jahil. Tapi terkadang (yg kelewat sering) aku juga jadi korban jahilnya si Aa (panggilan tuk hubby-ku). Baru sekarang2 ini kusadari, kalau ternyata dijahilin juga seru lho. Hihihi.. 😁 apalagi ujung2nya aku kebanjiran sikap romannya si Aa. Jadi meleleh deh. He is so sweet.... 😇

Oh ya. Sebelum aku bercerita tentang jahil dan romannya Aa, mungkin ada serunya juga kalau aku bercerita bagaimana kesanku saat awal masa halalnya kami.

Jadi, mulanya sih kami masih canggung banget untuk saling sentuh. Eitt, jangan kelewat jauh mikirnya ya. Maksudku tuh sentuh tangan. Iya. Sentuh tangan. Maklum saja, kami berdua memang sama2 awam soal menyentuh lawan jenis yg bukan mahram. Ia juga belum pernah berpacaran sepertiku. Mungkin karena basic pendidikannya yg dr pesantren kali ya? 😊

Jadi meskipun pak penghulu sudah meng-sahkan kami sebagai pasutri, aku masih merasa canggung banget waktu diminta cium tangannya Aa. Rasanya aneh.. As if there are butterflies in my tummy. ☺ Dan gak cuma aku aja. Aa juga kelihatan banget groginya. Alhasil jadilah kami pasangan suami-istri baru yg lebih sering menunduk dan malu2 gak jelas sewaktu saling melirik. Hihihi..😂 ditambah lagi dengan adanya momen foto2 pernikahan yg mesti diambil di hadapan banyak pasang mata. Diminta pose pelukan lah.. Pegangan tangan lah. Apa lah.. Dan yg paling gak bisa kulakuin saat itu tuh, pose saling menatap yg lama. Aku gagal untuk gak menunduk dan jadi si kucing pemalu. Fotografer nya aja sampe geleng2 kepala gitu deh.. 😁 Syukur alhamdulillahnya foto wedding kami berakhir bagus. Makasih banget deh buat fotografer and kameramen nya. Mereka kereenn.. 👍🏻

Lanjut tentang pacaran setelah menikah.

Aku jadi ingat, kalau aku pernah menuliskan dalam tulisanku di jilid 1 perihal anak lelaki. Di sana aku menulis kalau anak lelaki itu "liar, jahil, jorok dan kasar". Sekarang juga, kucabut pernyataanku itu. Kuakui, gak semua lelaki seperti itu kok. Contoh saja Aa. Aa gak liar (teratur banget malah), gak jahil(jahil amat.. Hee.. 😄), gak jorok (justru lebih cinta kebersihan si Aa daripada aku. Lebih rapih pula. Aku aja jadi sering malu sendiri kalau ngebandingin sikap bersih ku dan Aa), apalagi kasar. Aa sih lembut banget. Beliau selalu memperlakukanku dg sikap mulia. Suka nimbain air untukku mencuci.. Suka jadi seksi penggebah nyamuk yg sering nemplok di kamar kami, sementara aku udah berlindung dg nyaman di bawah selimut.

Aa pun penyabar pula. Aa sabaaaar banget menghadapi semua kekuranganku sbg seorang istri juga insan pribadi. Beliau gak pernah bentak2. Paling cuma ngerasin nada suara kalau aku lagi khilaf akan sesuatu. Itu pun saat kami sedang hanya berdua. Kan banyak tuh sekarang ini orang2 merasa leluasa ngebentak pasangannya di muka umum. Kan bikin down banget tuh. Alhamdulillah aa gak begitu. Aa is the best lah pokoknya! 👍🏻😉

Memang.. Kehidupan berumah tangga gak selalu manis. Aku pun mengakui. Adakalanya aku dan aa berselisih paham akan sesuatu. Kami saling berargumen dan mengemukakan pendapat kami. Terkadang juga ada hal yg tidak kami sukai dr pasangan. Tapi alhamdulillah nya kami sudah sepakat untuk selalu mendiskusikan segala hal itu dg kepala dingin. Jadi, sejauh ini aku dan aa masih berasa bulan madu (walau kami gak pernah jauh dr rumah 1 n 2-itu istilahku untuk rumah emak dan mertua. Hee.. ☺).

Nah. Kurasa sudah cukup aku menguraikan manisnya pacaran setelah menikah ya. Satu yg bisa kuambil hikmahnya dr keputusanku ttg pacaran ini adalah,
"Yakinlah akan Janji Allah. Sesulit apapun halangan yg kamu hadapi. Karena saat kamu sudah menumpukan harap dan keyakinan hanya kepada-Nya, maka pasti Dia akan mengejutkanmu dg hadiah hidup yg super duper manis." (Seperti si Aa thea.. Hee.. 😁😁).

Jadi, buat kawan2 yg masih single, jangan sungkan ya kawan tuk pacaran sesudah menikah. Insya allah berkah and jauuuhh lebih seru rasanya. Karena segala hal pertama bisa kamu rasakan bersama si dia. Usaha yg bisa kamu lakuin saat ini ya cuma berdoa and gemar memperbaiki diri. Insya Allah kelak kamu pun akan dipertemukan dg si dia yg baik hati (plus kaya.. Tidak sombong.. And rajin menabung.. Hee.. 😄).

 Dan untuk kawan2 yg udah terlanjur pacaran, udah putusin aja! Eiitt.. Sabar dulu. Kalimatku belum selesai lho.😁 Maksudku tuh, udah putusin aja tuk segera ke pak Penghulu. Kan jadi cepet halal and berkah tentunya. Hee..  👍🏻😉☺

Oke deh. Kurasa cukup dulu ya sampai di sini. Insya Allah kita jumpa di postingan berikutnya ya, kawan.

Ciao Ma! 😉

Oke-nya Pacaran Setelah Menikah (Bag. 1)

Pacaran.
Sebuah kata yg sempat mengusik rasa penasaran ku selama beberapa tahun yg lalu. Pertama kali aku menyadari arti kata itu adalah saat aku masih duduk di bangku kelas 2 MTs, sekitar tahun 2003. Saat itu, seorang kawan karibku diisukan sedang berpacaran dengan kakak kelas kami. Saat kutanyakan pada kawanku, ia menyanggah sedang berpacaran. Tapi saat itu aku pun merasakan adanya interaksi yg agak berbeda antara kawanku dengan kakak kelas kami itu. Tak seperti layaknya hubungan antara anak lelaki dan perempuan yg kutahu saat itu. Karena sepanjang pengetahuan 12 tahun usiaku, antara anak lelaki dan perempuan itu seperti kucing dan anjing. Tak akur. Jadi aku merasa agak aneh dengan gelagat kawanku yg seperti kucing malu-malu bertemu kucing lainnya. Aneh saja. Bagiku saat itu, semua anak lelaki itu liar, jahil, jorok, kasar, dll. Jadi aku tak terlalu tertarik untuk berdekatan dengan anak lelaki, apalagi disuruh berpacaran. Hiii.. Ngeri.😣

Memasuki SMA, pikiran kanak2ku perihal pacaran masih tak berubah banyak. Hanya saja saat itu aku tak terlalu 'alergi' dg lelaki dan bisa lebih bersikap 'toleran'. Aku jadi tak terlalu abai akan kehadiran mereka. Dan Aku juga tak lagi menganggap mereka seperti hantu yg tak tampak. Hee.. 😄 intinya, saat awal SMA itu aku mulai menganggap mereka ada deh. Terlebih lagi aku duduk sebangku dengan salah satu primadona cantik se-angkatan ku. Alhasil mejaku hampir selalu kedatangan para kumbang yg ingin menyapa bunga cantik yg duduk di sampingku itu. Hihihi..😁 Aku sih awalnya agak risih. Terlebih lagi aroma lelaki itu berbeda jauh dg aroma perempuan yg sering kuajak bicara. Macam2 gitu deh. Dari skala wangi emperan sampai wangi pertokoan.
Aku heran dengan Tika, kawan sebangkuku. Kok bisa ya dia tahan menghadapi wangi aneh yg bermacam2 itu?😅
Itu pemikiranku saat kelas 1 SMA.

Nah.. Menaiki kelas 2, aku mulai dihinggapi rasa curious, aka penasaran dengan pacaran. Pasalnya, aku sering mendapat curhatan perihal 'cowo dan perasaan' dari orang2 terdekat ku. Heran juga sih. Padahal kan aku tak pernah akrab dg lelaki, apalagi pacaran, tapi rata2 temanku curhat ttg hal itu. Serasa seperti sudah spesialisasiku gitu. Padahal kan aku buta banget soal pacaran. Dan Aku masih punya sedikit alergi dg lelaki. Masih risih gitu deh kalo deket2 mereka. Jadi kenapa juga teman2ku merasa nyaman ya curhat ttg 'cowo dan pacaran'? Aneh..😕

Lulus dari SMA, aku masuk kuliah. Dari sini pandanganku tentang pacaran mulai mengalami pergeseran yg cukup signifikan (ciaelaaa...bahasamu, Mell.. 😂). Entah karena aku mesti ngekos dan tinggal jauh dr zona nyaman keluargaku. Atau juga karena aku yg tiba2 mesti mandiri dan ngurusin semua keperluan sehari2ku sendiri. Jadi mau tak mau aku harus makin sering berinteraksi dg lelaki. Dan itu membuatku mulai merasa biasa dg musim pacaran yg berseliweran di sekitarku. Hampir semua kawan2ku berpacaran atau sudah pernah berpacaran. Dan mereka juga merasa nyaman bercerita perihal dunia pacaran kepadaku.

Syukur alhamdulillah-nya, Allah mengasihi ku dan mengenalkanku dg organisasi LDK (Rohis-nya Kampus). Yg dengannya aku jadi tahu bahwa pacaran itu tak diperbolehkan dlm aturan Islam. Yg ada itu, ta'aruf atau menikah. Jadi aku pun menetapkan diriku untuk tidak ikut2an berpacaran seperti kawan2ku. Sungguh sebuah tantangan yg cukup berat bagiku saat itu. Karena aku pun mulai dijangkiti oleh virus merah jambu (aka. Cinta). Parahnya lagi, si doi adalah orang yg hampir selalu kutemui di masa2 perkuliahanku. Makin merahlah si jambu. Makin tuebell deh godaan pacaran buatku. Tapi teteep.. Alhamdulillah. Aku masih ber'keras kepala' untuk gak pacaran. Atau memakai istilah seniorku di LDK, pacarannya sesudah menikah aja. Itu jauuuh lebih indah. 😁😊

Tahun terus berganti. Perubahan dan kepelikan hidup pun makin sering kudapati. Pandanganku akan beberapa hal dalam hidup mulai berubah. Perubahan yg juga turut merubah sedikit banyaknya kepribadianku yg optimis dan ceria. Meski begitu, satu hal tak pernah berubah. Yakni pandanganku perihal pacaran. I'm still saying no to date. Pacarannya habis nikah aja lah. Meski pun aku mengetahui bahwa si doi yg kusukai juga menyukaiku, aku tetap bilang gak tuk pacaran. Kukatakan padanya, bahwa Jodoh, rizki dan maut itu pasti. Jadi kalau kami memang berjodoh, insya allah kami akan kembali bertemu dlm hubungan yg lbih baik. Dan syukurnya ia menerima keputusanku. Sedikit ada rasa sesal di hatiku saat itu. Tapi tak sebesar jika aku harus melanggar janjiku pada diriku sendiri yg ingin pacaran sesudah menikah. Bukannya sok suci atau apa ya. Tapi aku sudah banyak mengalami kegagalan dlm sektor lain hidupku. Jadi aku ingin dalam sektor hubungan dg kaum adam aku bisa berhasil, yakni dg tidak menyalahi aturan dr Ilahi. So, i'm still single and quite-very happy. Hee.. 😊

Tahun kembali berganti. Dan aku kembali mendapat kejutan saat kudengar bahwa si doi hendak menikah dg bunga lain. Herannya, aku tak merasakan patah hati seperti yg sering dicurhatkan kawan2ku. Padahal aku sudah mengantisipasi akan adanya  pelemparan bantal, gigit jari, banting piring, dll. Hee.. 😆 tapi serius! Aku justru ikut senang karena akhirnya doi yg kusuka dan kukagumi bisa menemukan jalan bahagianya. I'm sincerely happy for him. 😊

Hmm..sayangnya, hidupku gak berhenti sampai di situ. Karena kemudian aku harus melalui masa2 transisi dari mendapat pertanyaan, "kapan lulus kuliah?" menjadi "kapan nikah?". Hadeeh.. Baru deh kurasakan gimana rasanya jadi wanita umur 24 yg belum juga nikah. Sering banget aku ketemu orang dan dapet pertanyaan2, "calonnya orang mana, Mel?" "udah nikah?" "kapan kamu ngasih cucu?" dll..
Pertanyaan yg terakhir itu seringnya ditanyakan oleh bapak. Kalo emak sih, paling cuma ngasih tatapan yg gimanaaaa gitu. Jleb ke hati gitu deh. Aku berasa bisa denger suara batin emak yg bilang, "kamu kok betah sendiri, Mel.."
Gitu deh. Susaahh..😩

Bukannya aku betah sendiri dan mutusin untuk jd biarawati ya. Tapi ya gimana juga klo memang jodohku belum waktunya tuk datang. Aku juga mau kok menikah. Oke.. Aku memang masih punya sedikiiiitt alergi kalo deket sama lelaki. Tapi aku bisa menutupinya. Aku juga sudah mulai berdoa untuk membuka tabir jodohku. Agar sang pangeran segera datang menjemputku (berasa jadi princess.. 😋). Agar status single-ku segera berubah jadi double-triple-atau kwartet sekalian. Tapi ya gimana lagi? Kan yg tahu jodohku mah cuma Allah. Usahaku cuma bisa dg doa dan memperbaiki diri. Agar kelak pangeranku pun adalah seorang yg gemar memperbaiki diri. Jadi, aku pun mencoba meyakinkan orang2 terdekat ku bahwa jodoh itu termasuk hal pasti yg udah dijanjikan Allah kedatangannya. Dan janji Allah itu gak akan pernah ingkar. Pasti. Ti. Ti. Ti. Titik. 😤 yakin aja deh sama Allah..😊

Tahun kembali berganti. Emak, Bapak, Herdi makin gelisah memikirkan jodohku. Wajar saja. Usiaku sudah akan 26 tahun dan aku belum juga mendua. Beberapa usaha perjodohan yg dicanangkan bapak dengan patuh kulalui. Anaknya teman bapak sih. Tapi sayang, gak ada yg sreg di hati. Yg satu perokok, yg satu terlalu dark (itu istilahku untuk orang2 yg berwajah kelewat serius). Bukannya aku pemilih. Tapi ya gimana klo hatiku teriak kenceng banget dan bilang "enggak diaaa!"? Masa iya aku mau lanjut ke tahap nikah dlm kondisi hati yg setengah2? Nanti hasil nikahnya setengah2 jg lagi? Hii.. Naudzubillah. Jadilah akhirnya, aku nekad bilang enggak dan siap nerima kuliahan singkat tentang umurku yg udah gak terlalu muda untuk pilih2 jodoh. Aku sempat pingin nangis. Tapi kukuatkan diriku dan menumpahkan tangisku hanya saat aku berdua dengan Allah. Toh Allah yg Maha Mendengar, Maha Pengasih, Maha segala. Semoga saja Dia berkenan untuk segera mempertemukan ku dg sang pangeran.  Begitu doaku saat itu.

Dan alhamdulillah.. Doaku terkabul.
Tak lama sejak gagal nya usaha perjodohanku dengan anak teman bapak, pangeranku pun datang.
Ia mewujud dalam sosok asing yang tak pernah kutemui sebelumnya dan datang bertamu ke rumah menemani bibinya. Tak ada rasa risih saat aku menjamu ia sebagai tamu. Karena ia pun tak banyak bicara dan lebih sering melempar senyum atau tawa kecil saat menanggapi kelakarku. Aku tak pernah menduga bahwa seminggu setelah perjumpaan pertama kami itu, orangtuanya datang ke rumah untuk meminangku. Jedar.der.dor. berasa dapet durian montong di siang bolong.
Setelah istikharah beberapa hari, (ajaibnya) hatiku mantap menerima pinangannya. Dan kedua keluarga kami pun bersepakat untuk menyegerakan hubungan baik ini dalam 2 bulan ke depan. Dan yup. Kami pun menikah. Alhamdulillah... ☺☺☺

Nah. Gimana rasanya menikah sama orang yg dua bulan lalu masih jadi orang asing buatmu? Pacaran sesudah nikahnya gimana juga ya?.. Mau tahu? 😄 insya allah kulanjutin lagi di lain waktu ya. Maaf. Aku mesti nyelesain PR ku dulu sbg istri. Ya cuci.. Ya masak. Gitu deh. Hee.. Sampai jumpa di "Oke-nya pacaran setelah Menikah- Bag. 2".
Ciao Ma! 😉😉😉

Jumat, 13 Januari 2017

Bahagia itu Sederhana

Tak perlu harus kaya untuk bs bahagia. Pun jua tak perlu harus pintar, cantik/tampan, sukses untuk bs merasakan bahagia.
Cukup dengan rasa syukur di hati atas segala nikmat yg telah Diberi oleh-Nya saja yg bs menghadirkan bahagia di hati.
Berterima kasih untuk setiap hela nafas dlm hidup..
Berterima kasih untuk setiap kesempatan yg ditawarkan oleh hidup..
Berterima kasih untuk setiap malaikat baik yg menyertai selalu dlm hidup..
Pun jua berterima kasih untuk setiap kesadaran diri atas rasa syukur dlm hidup..
Alhamdulillah 'alaa kulli hal.
Begitulah seharusnya motto setiap insan.
Bersyukur di setiap keadaan.

Satu yg paling ingin kusyukuri saat kutulis catatan ini di pertengahan malam buta kini adalah,

"Terima kasih Yaa Rabb.. Sudah menautkan ia dlm takdirku. Karena darinya hamba bs belajar ttg banyak hal lagi. Kesabaran, kemudaan, loyalitas, empati, ah.. Dan masih banyak lagi. Jika kelak Engkau meminta saksiku, maka akan kugemakan saksiku sekencang-kencang nya. Bahwa ia adalah seorang imam yg baik. Dan Ia termasuk pula ke dalam hamba-Mu yg baik.
Maka kumohon Yaa Rabb..
Mulia kan ia..
Bahagia kan ia..
Limpahkan manisnya hidup kepadanya..
Dan rahmati ia dg Kasih-Mu yg tak berbatas.
Amiin..
Amiin..
Amiin..
Walhamdulillaahirabbil 'alamiin.."

☺🌸🌌

Selasa, 15 November 2016

Jalan Takdir dan sebuah Berita

[Sebenarnya tulisan ini selesai kutulis pada 30 Agustus 2016 lalu. Tapi baru sekarang sempat ku posting di sini. Selamat membaca ya, kawan.. ^•^]

Apalah kehendak manusia jika disandingkan dg kehendak Allah Swt.? Bismillaahirrahmaanirrahiim... Setiap dari kita bisa berencana. Bermimpi memimpin gunung. Berseru tentang keelokan masa depan. Atau bahkan bertekad dg tujuan langit. Tapi pada waktunya, semua rencana, mimpi-mimpi, seruan ataupun tekad itu pasti akan menghadapi satu filter kehidupan yang mumpuni, yaitu takdir, aka. Kehendak Allah Swt. Takdir, sebagai filter dari segala usaha dan mimpi anak manusia hingga saat ini selalu saja menampilkan 2 jalan. Kedua jalan itu adalah jalan pemenuhan mimpi-mimpi, serta jalan pengubahan mimpi menjadi mimpi yg lain. Setiap jalan ini memiliki kadar uji dan kesenangannya masing-masing. Untuk mereka yang diijinkan melewati jalan dimana terpenuhinya mimpi dan harapan, maka akan diberikan kepadanya ujian tentang ketawadhu'an. Apakah setelahnya ia akan menjadi pribadi yang rendah hati ataukah menjadi pribadi yang senang berbangga diri di atas segala kesenangan teraihnya mimpi. Dan untuk mereka yang diijinkan melewati jalan pengubahan mimpi, ia juga akan diberikan ujian. Persisnya adalah ujian tentang ketawakalan. Apakah setelahnya ia akan menjadi pribadi yang tetap berkhusnudzon kepada rencana-rencana Allah Swt., ataukah menjadi pribadi yang mudah berputus asa serta berprasangka buruk akan takdir-Nya. Kedua jalan tersebut sesungguhnya dimaksudkan untuk menempa rasa syukur manusia. Entah dalam suka ataupun duka, rasa syukur sudah seharusnya tetap selalu ada. Karena dengan rasa syukur itulah kita bisa menikmati manisnya hidup. Manisnya iman. Rasa syukur pula yang akan membawa kedamaian pada setiap hati. Karena dengan bersyukur maka itu berarti kita sudah mempercayakan Allah selaku Perencana Takdir yang Terbaik. Dengan bersyukur, kita yakin bahwa setiap apa yang dikehendaki oleh-Nya tentu adalah yang terbaik untuk kita. Dan dengan keyakinan bahwa yang terbaiklah yang akan selalu kita dapatkan, maka akan datang pula kedamaian. Wallahu a'lamu bish shawab... Dua jalan yang difilterkan oleh takdir juga terkadang telah diselingi oleh kejutan-kejutan hidup. Kejutan yang seringnya tak terduga itu sesungguhnya adalah bentuk lain dari kesempatan untuk membuka jalan mimpi yang baru. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi kejutan dalam hidup akan menjadi penentu akankah kesempatan untuk meraih mimpi-mimpi baru itu bisa kita raih. Atau tidak. Bentuk kejutan dalam hidup itu ada bermacam-macam. Salah satu yg bisa kucontohkan di sini adalah perjumpaanku dg seorang ikhwan shaleh (Insya Allah. Amiinn) bernama Subki. Selanjutnya kusapa beliau sebagai Kak Subki. Siapa yg dapat menduga, bahwa perjumpaan pertama kami sekitar 53 hari yg lalu akan mengantarkan kami pada fase ta'aruf dan akhirnya menuju ke fase yg lebih serius, yakni pernikahan? ^_^ Siapa pula yg dapat menduga, bahwa perkenalan singkat kami selama 54 hari ini akan mempertemukan kami pada banyaknya kesamaan diri? We are the same old-soul, have the same hobbies, the same history, and even the same ideology. Siapa yg dapat menduganya? ^_^ Meli tentu tidak dapat menduga bahwa kedatangan beliau ke rumah saat itu adalah u/ mencari pendamping hidup. Meli juga tidak dapat menduga bahwa segala sikap dan tutur kata mel saat perjumpaan pertama kami itu telah meninggalkan kesan tersendiri di hatinya. Meli tidak dapat menduga semua hal itu. Tapi mel akui bahwa perjumpaan pertama kami itu adalah salah satu kejutan termanis yg Allah swt. berikan dalam hidup mel. Bahagia? Sudah tentu... Alhamdulillah berkali-kali malah... ^_^ Meski begitu, mel gak akan terlena dengan mimpi yg baru terbentuk ini. Karena seperti namanya, mimpi hanyalah mimpi, sesuatu yg tidak nyata. Sebuah mimpi baru bisa terwujud jika disandingkan dg usaha dan doa. Maka bismillah, beserta segenap usaha, mel haturkan pula doa dan harapan mel bahwa mimpi baru ini bisa terwujud nyata dan memang menjadi sesuatu yg baik adanya. Membentuk keluarga yg sakinah, mawaddah, juga rahmah. Amiin.. Allahumma amiin.. Mohon doanya ya, semua. ^_^ Salam hangat selalu.. Meli-Mei-Lia. ^v^

Cinta yang seperti pohon, tak seperti komet.

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad. Wa 'ala aali sayyidina Muhammad. Shallallahu 'alaih..

Alhamdulillah. 'Ala kulli hal. Lama sudah aku tak bersua dg dunia blog. Sebenarnya sih ada banyak tulisan yg mesti ku-posting. Sayangnya rasa malas sempat menjangkitiku. Hihihi.seperti virus, mungkin, rasa malas itu. ^~^
Baiklah, kurasa aku tak perlu berpanjang kata lagi ya.
Jadi, dalam postingan ini, aku akan mengabarkan bahwa Allah telah menganugerahiku jenis cinta yg baru. Setelah dulu ia menganugerahiku cinta yg seperti komet, kini aku telah mendapatkan jenis cinta yg bisa dibilang seperti pohon.
Nah. Mengapa komet, mengapa pohon?
Jadi begini...
Dulu aku sempat menjumpai cinta yg seperti komet. Berkilau. Melenakan. Wow. Sayangnya ia hanya melintas, sebelum akhirnya berlalu dr pandangan mata. Seperti komet, cinta itu memudar seiring berlalunya waktu. Disebabkan oleh menjauhnya sang cinta itu sendiri. It doesn't mean that i blame it, though. Aku justru bersyukur dg adanya pengalaman cinta kometku. Karena aku jadi lebih peka dan bs menghargai jenis cinta baru yg kini mendampingi hari-hariku. Cinta yg seperti pohon.
Layaknya pohon. Cinta baru ini terus bertumbuh. Ia yang mulanya hanya berupa tunas dr biji kasih, perlahan-lahan mulai tumbuh dan tumbuh dan tumbuh hingga kini mulai mengakar kuat di pokok hatiku. Cinta ini bahkan mulai memunculkan bunganya. Bunga, yg menjadi pertanda akan munculnya buah. Buah cinta. ^~^
Kurasa kalian bs mulai menebak-nebak jalan ceritaku perihal cinta ini.
Ya. Cinta komet itu memang adalah sesuatu yg berwujud manusia.
Dan, ya. Cinta yg seperti pohon pun juga berwujudkan manusia.
Tak perlulah kutuliskan siapa cinta kometku. Tapi untuk cinta pohonku, dia adalah seorang pria yang telah menjadi partner, sahabat, juga guruku dlm mengarungi bahtera pernikahan sejak jum'at, 16 September 2016 lalu.
Ya. Kalian benar. Aku sudah menikah kini.
Dan, ya. Kalian benar lagi. Aku pun sedang mengandung buah cinta milikku dan cinta pohonku.
Ahh.. Apa lagi yg bisa kukatakan selain, "alhamdulillah 'ala kulli haal". ^•^
Allah yg mempertemukan. Allah yg meridhakan. Allah yg merizkikan. Allah pula yg menguatkan.
Harapku kini,
" Semoga Allah menguatkan kami dalam menjaga rizki cinta yg kami miliki kini.
Semoga pula Allah meridhai setiap langkah kami yg senantiasa ingin menjumpai jalan-jalan ridha-Nya.
Semoga ia mengukuhkan juga menjaga pohon cinta ini, hingga ia menjadi pohon rindang yg tak hanya kokoh, namun juga mampu meneduhkan dan menebarkan manfaat kepada sekitarnya.
Amiin.aamiin.aamiin. Allahumma aamiin..."
Salam hangat selalu,
Dari kami,
Suli.
(Subki-Meli). ^•^

Kamis, 30 April 2015

Perkenalan dengan "Lensa"

Alhamdulillaah 'alaa kulli haal..
Puji Syukur kepada Allah swt. untuk setiap keadaan..^.^
hmm.. singkat saja ya.
di posting-an ini, aku ingin mengabarkan bahwa aku akan mengenalkan kawan-kawan pada "hasil tangkapan" kameraku. ^.^ Sungguh. hanya bermaksud ingin mengenalkan kawan-kawan pada sudut pandangku tentang dunia dan seisinya, juga Pencipta-nya. Setelah beberapa tahun kemarin aku asik mengenalkan kawan-kawan pada bagaimana musik yang mengiringi hidupku. Sejak seminggu kemarin aku tergugah untuk membagi foto-foto hasil jepretanku. Masih cukup amatir memang.
Tapi kuharap bukan keamatiran yang hanya bisa kawan-kawan tangkap dalam rangkaian foto-fotoku ya. Kuharap kawan juga bisa ikut menangkap "rasa" yang kualami ketika menangkap foto-foto tersebut.
Demi kenyamanan semua pihak, foto-foto yang akan ku-publish dalam blog ini adalah foto-foto inhuman. artinya, aku tak akan menampilkan wajah orang-orang yang kukenal. ini hasil pertimbanganku bahwa setiap orang tentu memiliki hak untuk bisa memilih wajahnya di-publish atau tidak.
Nah... kurasa cukup sampai di sini perkenalan tentang "Lensa"-ku ya.
Sebagai salam perkenalan, berikut akan kutunjukkan salah satu tangkapan lensa-ku.

 Judul Piku : "Tertangkap Basah".
Model         : Kucing Belang Hitam No. 1
Software edit  : CS360

Minggu, 20 Juli 2014

Tentang Sekitar



22 Ramadhan 1435 H.
Ahad, dalam pelukan malam.
Singkat saja. ± sudah ada 350 orang yang menjadi korban kebrutalan serangan udara yang diluncurkan oleh militer Israil ke wilayah Gaza, Palestina. Semua korban itu merupakan warga sipil kota Gaza, di mana mayoritas di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Sementara itu, di pihak Israel sendiri ada 3 orang warga sipil yang menjadi korban rudal Hamas, penguasa wilayah Gaza.
Pertanyaanku: Perlu berapa korban jiwa lagi yang harus tumpah, agar Netanyahu (PM. Israil) merasa muak dengan peperangan?
Terkait MH-17. Dari 298 orang korban jatuhnya pesawat Malaysia di Donetsk, Ukraina, 17 Juli lalu, 12 orang di antaranya diketahui berkewarganegaraan Indonesia (WNI, Warga Negara Indonesia). Meski tiga hari telah berlalu, belum ada pengevakuasian jenazah yang dilakukan oleh pihak mana pun. Bahkan yang lebih miris lagi, dikabarkan bahwa ada sekitar 38 jasad yang telah dipindahkan dari TKP oleh para pemberontak UK (Ukraina)-pro Rusia entah ke mana.
            Pertanyaanku: jasad-jasad sebanyak itu mau diapain ya? Kenapa gak langsung dikasih ke pemerintah setempat?
Tentang Hafiz Indonesia. Hari ini Syaikh Rasyid (7th) tereliminasi dari ajang Hafiz Indonesia yang diselenggarakan oleh salah satu televisi swasta selama bulan Ramadhan ini. Rasyid berada di posisi dua terbawah bersama Abiw (5th), hafiz asal Ciamis. Hari ini Abiw memang sedang flue-batuk, karenanya kurang bisa menampilkan performa terbaiknya, seperti biasanya. Tapi ternyata Abiw-lah yang berhasil lolos dan masuk ke lima besar Hafiz Indonesia 2014. Bersama Fu’adi (7th), Denissa (5th), Aza (7th), serta jagoanku-Musa (5,5th), Abiw kembali belajar di sanggar Hafiz Indonesia. Hebat! Semua anak-anak ini sungguh hebat! ^_^
            Komentarku: semoga kelak, aku pun bisa turut menjadi penjaga al Qur’an, sama seperti para hafiz cilik itu. Karena aku pun ingin disambut sebagai keluarganya Allah kelak, di yaumil akhir nanti. Amin.
Tentang Dimas. Sepupuku yang belum lama ini menggenapkan usianya di angka 3th ini sungguh menggemaskan. Tapi akhir-akhir ini aku mendapati adanya perubahan dalam kepribadiannya. Dari mulanya Bengal, menjadi lebih mau mendengarkan. Aku juga dibuatnya kagum dengan tindakan anehnya beberapa hari ini. Tindakan apakah?...
            Jadi, akhir-akhir ini Dimas seringkali membuka pintu kamarku, menyingkap tirai yang membuka ke dalam kamar warung, lalu (dengan masih berdiri di dekat pintu) ia melongok ke dalam warung. Jelas-jelas Dimas sudah tahu bahwa di warung sedang tak ada orang. Tapi Dimas selalu melakukan tindakan aneh itu beberapa kali dalam setiap kesempatannya. Diam-diam aku paham sendiri dengan tindakan aneh Dimas itu. Setelah kulihat ekspresi aneh yang sekilas muncul di wajah Dimas usai melakukan tindakan aneh itu. Dan kukira, penyebabnya, tak perlu lah kutuliskan di sini. Kucatat dalam hati saja, tak apa-apa ya.. ^_^
Tentang Aceh. Kemarin, Bill Clinton (mantan presiden AS, Amerika Serikat) berkunjung ke Bireun, Aceh Besar. Agendanya sih untuk melihat perkembangan Aceh setelah mengalami tragedi Tsunami pada bulan Desember, 10 tahun yang lalu.
Komentarku: Kedatangan Bapak Bill ini atas nama siapa ya? a/n negaranya-kah? Atau mungkin kunjungan pribadi? Hmm… Cuma pingin tahu saja. ^.^
Tentang Sam Bimbo. Aku gak kenal dan gak begitu inget sama profil beliau. Tapi hari ini (dan juga kemarin) aku sering senandungin salah satu lagu religi miliknya. Itu loh… yang liriknya begini: “bermata tapi tak melihat… bertelinga tapi tak mendengar…” dst. Lagunya bagus. Aku suka. ^_^.
Tentangku. Hari ini aku mengalami pengalaman baru. Apa itu? Ke salon, buu.. ^_^. Herdi narikin aku tuk pergi ke Salon. Alhamdulillah ada salon yang baru dibuka di dekat rumah. Punya Bu Haji Om. Jadi, di-facial deh aku. Makasih ya Die.. ^_^
Komentarku: Gak tahu apa akunya yang sensitif, tapi beneran! Di=facial tuh rasanya geli banget. Hahaha.
Tentang ending tulisan ini. Sudah dulu ya. Insya Allah akan ada kesempatan untuk bercerita lagi.
Komentarku: See Yaa! ^_^.

Jumat, 11 Juli 2014

Entah dan Gaza



13 Ramadhan 1435 H.
Jum’at Berkah, Langit Cerah, Hati Resah
09.45 wib
Dadaku berdegup kencang. Lebih kencang dari biasanya. Sebuah perasaan aneh menghinggapi benakku. Déjà vu. Perasaan mengenal pengalaman seperti ini. Perasaan yang pernah muncul tiba-tiba, seperti malam sebelum Jo wafat dulu, bertahun-tahun yang lalu.
[Jo adalah salah seorang sahabatku. Ia termasuk ke dalam spesies langka dari sederetan makhluk yang hadir di hidupku. ^_^ hehehe.. maksudku, Jo itu termasuk ke dalam bagian dari sangat sedikitnya lelaki yang bisa akrab denganku. Ya. Kuakui, aku memang tidak bisa mengakrabkan diriku dengan kaum adam. Sedari kecil aku sudah membatasi pergaulanku lebih kepada kaum hawa. Sementara kepada kaum adam, aku sering merasa risih juga malu, meski hanya untuk menatap mata terlalu lama. Sebab musababnya, insya Allah akan kuceritakan di kesempatan mendatang. Pun jua dengan cerita perkawananku dan Jo. Butuh waktu tersendiri untuk menceritakan kisah tentang Jo. Jadi, mohon bersabar ya.^_^
Saat ini  sudah hampir empat tahun Jo dikebumikan. Meski begitu, aku masih merasa bahwa ia masih hadir di dunia ini. Jo memang sahabat yang sangat baik. Meski mesti kuakui juga, bahwa aku pun sebenarnya tetap tak bisa akrab dengannya seperti akrabnya aku dengan sahabat wanitaku. Tapi seiyanya, di hadapan Jo, aku bisa tersenyum lepas dan mengemukakan isi kepalaku. Rasanya seperti berbincang dengan kakak sendiri. Begitulah. ^_^
Jo. Joko Syahridlo. Satu harap terbesarku untuknya adalah, semoga Allah menyertakannya bersama hamba-hamba-Nya yang shalih di surga-Nya sana. Amin. Allahumma amin.]
Astaghfirullaahal’azhiim…
“Yaa Rabb… Hamba mohon ketenangan bagi hati hamba.
Perasaan apa ini yang muncul secara tiba-tiba? Hamba merasakan kecemasan terhadap sesuatu hal yang (entahlah) tidak hamba ketahui. Degupan jantung yang mencemaskan ini telah melelahkan pikiran hamba dari menahan diri untuk tidak berprasangka. Karena Engkau Yang Maha Tahu, Yaa Rabb… Engkau Maha Tahu segala sesuatunya.
Maka kumohon…
Jika memang ada hal yang harus hamba ketahui berkenaan dengan degupan jantung ini, maka hamba mengharapkan kelembutan cara-Mu untuk membuat hamba memahaminya.
Pun sebaliknya..
Jikalah pengetahuan itu tidak/belumlah berhak untuk hamba ketahui, atau tidak ada hal apa pun yang terjadi berkenaan dengan degupan jantung ini, maka hamba harapkan pula ketenangan dan kasih-Mu bagi hamba-Mu yang dhaif ini.
Kumohonkan ini hanya kepada-Mu, Yaa Rabb…
Karena hanya Engkau-lah, kepada siapa aku menyembah dan memohon pertolongan.
Irhamnii, Yaa ‘Aziiz.. Yaa Malik.. Yaa Muqtadir.. Yaa Ra’uuf…”
Amin. Allahumma Amiin.
(11.40 wib)
Alhamdulillah. Degup jantungku mulai terasa biasa. Entah apa sebenarnya yang ada di balik keresahan yang datangnya tiba-tiba ini. Aku hanya mengharapkan ridha Allah untuk kebaikanku selalu. Amin.
(11.42 wib.)
Aku melihat TV bersama Emak. Di TV ditayangkan beberapa hal yang memiriskan hati. Kecelakaan maut, berita kemacetan Jakarta yang ditayangkan dengan sudut pandang seperti mengecam Pemda-nya, terror bom Molotov di salah satu gedung pelaksana survey yang mendukung capres no. urut 1, juga (lagi-lagi) serangan Zionis Israil ke Gaza yang—sampai kutulis catatan ini—diberitakan telah menewaskan 91 orang (dengan mayoritas korbannya adalah warga sipil perempuan dan anak-anak). Astaghfirullaahal ‘azhiim… innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…
Baiklah. Kita lanjutkan lagi.
Dalam tulisan kali ini, ada dua topik yang akan kuulas lebih cermat. Topik pertama adalah terkait pesta demokrasi yang baru saja berlangsung pada Rabu, 9 Juli yang lalu.
Aku merasa gerah. Gerah hati.
Rasanya gerah menyaksikan masih ada saja oknum-oknum yang bersikap negatif terhadap hasil Quick Count beberapa lembaga survei tentang hasil pemilu lalu. Mayoritas lembaga survey memang mengabarkan bahwa capres Jokowi-JK-lah yang memenangkan pesta demokrasi tahun ini. Sayangnya, ada oknum masyarakat yang berbuat tindakan-tindakan tak terpuji dengan dalih ketidakpuasan dan kecurigaan terhadap hasil pemilu lalu, atau pun juga dalih kesenangan diri untuk membuat suasana pemilu menjadi kisruh karena kerusuhan antara dua pihak capres-cawapres no. urut 1 dan 2.
Belum lama pesta demokrasi berakhir, beberapa stasiun TV sudah mulai sibuk meliput dan menayangkan berita-berita yang pada hakikatnya seperti menyerang kubu capres pilihan lawannya. Ya ada isu terror bom-lah. Ya ada isu kotak suara yang tidak disegel dan digembok ketika sampai di kantor pusat lah. Dan banyak lagi tayangan-tayangan sejenis yang intinya sama. Nampak ingin menunjukkan adanya kecurangan yang (diduga) dilakukan oleh kubu lawan.
Astaghfirullaahal ‘azhiim…
“Ya Allah… berikanlah pembalasan terbaik untuk siapa pun yang telah melakukan kecurangan. Entah mereka melakukan kecurangan terhadap pihak lawannya. Atau pun mereka-mereka yang melakukan kecurangan terhadap pihak mereka sendiri hanya demi dikasihani. Hamba mohon Engkau memberikan pembalasan-Mu yang terbaik dan seadil-adilnya, Yaa Rabb.. demi kemakmuran dan kesejahteraan Islam di Negara ini. Demi tegaknya hak-Mu di negeri sejuta ummat ini.
Jadikanlah pemimpin Negara ini, seorang yang mencintai kekasih-Mu, Muhammad saw. yang mulia. Jadikanlah mereka, para pemimpin kami, seorang yang bisa berkaca pada kepemimpinan rasul juga kepemimpinan orang-orang yang shalih di masa sebelumnya. Jadikanlah para pemimpin kami sebagai orang yang memiliki rasa takut untuk mengingkari bai’at kepemimpinannya. Jadikanlah mereka dan kami semua, sebagai hamba-Mu yang bisa memaknai ramadhan ini sebagai jalan lapang menuju  Nuur-Hidayah-Mu. Jadikanlah kami semuanya, Yaa Rabb.. kami semuanya…”. Amin. Allaahumma amin.
Cukup tentang pemilu.
Topik berikutnya yang (sangat) ingin kutulis saat ini adalah perihal serangan  Israil ke Gaza, Palestina.
“Allahummarhamna, Yaa Rabb! Irhamna..”
“Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah…”
Aku menangis. Sungguh menangis. Batinku, ragaku, menangis. Jiwaku, penglihatanku, basah. Apa lagi ini, Yaa Rabb? Astaghfirullaah…
Cukup!
Aku harus menguatkan diriku dari menuliskan semua kegetiranku tentang Gaza. Aku akan menuliskan catatan tentang Gaza ini dalam sudut pandang seorang penyampai berita. Aku harus. Sungguh harus. Maka bismillah… aku akan mulai menulisnya.
Jadi begini…
Berita tentang penyerangan ke Gaza sebenarnya sudah kudengar dari Herdi pada Rabu lalu (9/7). Saat itu aku dan keluarga sedang melihat tayangan Quick Count di televisi. Kemudian tiba-tiba saja Herdi menyampaikan berita duka itu. Herdi juga menunjukkan beberapa foto di layar handphone-nya. Di sana ditampakkan beberapa jenazah anak kecil, para wanita yang sedang menangis, juga gambar-gambar sarat kepiluan lainnya.
Hatiku langsung bergemuruh karena amarah dan kesedihan yang kutujukan untuk saudara-saudara muslimku di Palestina sana. Bersamaan dengan riuhnya berita hasil Quick Count di TV, pikiranku terbelah. Dan pusing yang sudah kurasakan semenjak Selasa malam pun memburuk pada Rabu sore itu.
Menjelang isya, kondisiku bahkan lebih memburuk lagi. Sendi-sendiku ngilu. Kepalaku terasa berat. Badan demam. Kondisiku baru membaik pada dua hari setelahnya, yakni pagi ini, hari Jum’at. Sayangnya, tayangan-tayangan di TV malah membuatku jadi gerah hati.
Astaghfirullaah…
Jadi, hari ini aku menyaksikan berita tentang Gaza sampai jarum jam menunjuk di angka 12.25 wib. Dari tayangan-tayangan itu, kuserap cukup banyak informasi. Berikut adalah ulasannya.
---
Hari ini adalah hari keempat penyerangan Israil terhadap Gaza. Sejauh ini, telah ada 91 orang warga sipil yang meninggal. Mayoritasnya adalah perempuan dan anak-anak. 22 orang anak-anak, lebih tepatnya. (astaghfirullaah… irhamna, Yaa Rabb)
Dunia jelas saja gempar dengan serangan Israil ini. Kemarin (10/7) bahkan diadakan rapat dadakan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk membahas hal ini. Dalam rapat itu, duta besar Palestina menyebutkan nama 22 anak yang menjadi korban. Dengan terisak, ia menyebutkan nama anak-anak itu beserta umurnya. Aku menangis, saat menyimak ucapan terbata-bata duta Palestina itu. Walau ia mengucapkannya dalam bahasa Arab, aku masih cukup mengerti ketika berkali-kali ia menyebutkan kata-kata: arba’a ‘ammah, ….., ‘asyrah ‘ammah… sab’ah ‘ammah... Kata ‘ammah itu kuterka bermakna usia. Tujuh tahun, sepuluh tahun, empat tahun. (Astaghfirullaah… Irhamna, Yaa Rabb..)
            Tak hanya PBB, pemerintah Indonesia pun turut bergerak menanggapi aksi immoral Israil ini. Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) melalui jubir-nya, Martin Natalegawa, menyampaikan kecamannya terhadap aksi brutal Israil itu. Dalam penjelasannya, Martin juga menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia telah mengajak Negara-negara non blok untuk  segera membantu pengadaan obat dan bahan makanan bagi rakyat Gaza.
Menanggapi hal ini, aku bersyukur, sekaligus juga sedikit kecewa. Aku bersyukur untuk ketanggapan pemerintah terhadap tragedi SARA ini. Sekaligus juga merasa kecewa, mengharapkan usaha yang lebih baik daripada hanya sekedar pemberian obat dan pemenuhan kebutuhan sandang dan pangan. Dalam hati aku mencibir.
“Tak terbetik-kah di benak para setiap pemimpin Negara untuk benar-benar membantu mengakhiri peperangan di Gaza? Tak bisakah mereka, yang telah diberi kuasa oleh jutaan rakyatnya, mengembargo Israil yang tak segan-segannya menyerang kota kecil Palestina itu dengan serangan darat, laut, dan udara? Di manakah para petinggi PBB, organisasi yang menamakan dirinya sebagai ‘polisi’-nya dunia? Di manakah keadilan itu? Haruskah penantian rakyat Palestina akan kedamaian, tak memiliki akhir sampai kalimat-Nya datang dan menyatakan ‘akhir’ bagi semesta? Haruskah darah-darah para syuhada Palestina tercecer sia-sia, tanpa ada gerak nyata dari siapa pun untuk berani membelenggu aksi brutal tentara Israil? Di manakah keadilan itu, Yaa Rabb? Di manakah penghakiman-Mu? Astaghfirullaahal ‘azhiim..”
Sudah. Sudah cukup, cibiranku itu. Kita lanjutkan lagi.
Jadi, PBB, pemerintah Indonesia beserta negara-negara non blok, serta mungkin beberapa negara lainnya sudah mulai bergerak. Alhamdulillah. Aku kembali bersyukur dengan gerakan kemanusiaan ini.
Selanjutnya, TV juga menayangkan MER-C. MER-C adalah organisasi nasional kemanusiaan yang digerakkan oleh para relawan asal Indonesia. Disebutkan di TV, bahwa MER-C memiliki dua program utama. Pertama adalah pembangunan rumah sakit untuk korban perang. Dan kedua adalah penggalangan dana serta obat-obatan dari berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan korban perang.
Allahu akbar!
Aku bertakbir. Memuji tindakan mulia MER-C dengan dua programnya itu. Kuakui bahwa dua program itu adalah bentuk nyata dari bantuan yang memang benar-benar dibutuhkan oleh rakyat Gaza saat ini. Meski tetap kuberharap, semoga pihak-pihak yang memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar dibanding MER-C ini akan bisa menghentikan peperangan di Gaza, Palestina, juga peperangan di mana pun adanya. Amin.
Sejauh ini, pemerintah Mesir telah membantu untuk membuka jalur Rafah, akses bagi penyaluran obat dan makanan menuju Gaza. Meski begitu, ada sejumlah pihak yang menyayangkan kebijakan pemerintah Mesir yang membatasi akses jalur Rafah ini. Karena sejauh ini jalur Rafah hanya bisa dilewati untuk para korban dari Gaza yang terluka, sementara untuk warga yang ingin mengungsi tidak boleh melewatinya.
Pemerintah Mesir berkilah, bahwa di Rafah pun sebenarnya sudah ada sejumlah pendukung Hamas, pihak yang disebut-sebut sebagai penguasa Gaza. Hamas inilah yang menjadi musuh bagi Israil. Mesir tidak ingin para pendukung Hamas di Gaza bisa bebas masuk ke Mesir melalui Rafah. Karena ini bisa menyebabkan serangan brutal Israil meluas ke wilayah Mesir juga. Seperti itulah.
Hhh… Letih rasanya benak dan pikiranku untuk menuliskan catatan ini. Sedih juga ketika kusadari bahwa aku pun, dengan segala cibiranku ternyata tak bisa membantu Palestina lebih baik dari mereka-mereka yang kucibirkan. Hanya do’a dan harapan yang kulirihkan kepada Yang Maha Rahman untuk kemakmuran Palestina, juga untuk negeri-negeri Islam lainnya. (amin). Memangnya, apa lagi yang bisa kulakukan?
Sebagai ending dari tulisan ini, berikut adalah lirik dari lagu  “Gaza tonight”.
Blinding flash of white light, lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover, not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes, with ravaging fire flames
And nothing remains, just a voice rising up in the smoky hazes
Reff:    We will not go down, in the night without a fight
You can burn up our mosque, and our homes, and our school
But our spirit will never die
We will not go down, in Gaza tonight
Womens and children alike murdered and massacred night after night
While the so called leaders of countries far, debated on whose wrong or right
But their powerless words were in vain, and the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the bloods and the pains,
you can still hear that voice through the smoky hazes
Reff:    We will not go down, in the night without a fight
You can burn up our mosque, and our homes, and our school
But our spirit will never die
We will not go down, in Gaza tonight.